Bjork performs at The 2023 Coachella Valley Music And Arts Festival on April 16, 2023 in Indio, California. Santiago Felipe/Getty Images for ABA

Pengantar: Isu Greenland Memanas di Panggung Global

Isu kedaulatan Greenland kembali mendapatkan sorotan tajam di awal Januari 2026 setelah Presiden Donald Trump dari Amerika Serikat mengulang retorika kontroversial soal kemungkinan aneksasi pulau tersebut, yang memicu reaksi internasional keras serta dukungan baru bagi kemerdekaan Greenland dari seniman internasional Björk. Sorotan ini terjadi di tengah gejolak geopolitik yang lebih luas dan sejarah panjang kolonialisme di Arktik. (euronews)

Greenland saat ini merupakan wilayah otonom di dalam Kerajaan Denmark, dengan urusan luar negeri dan pertahanan tetap berada di bawah kendali Kopenhagen. Namun dengan lokasi strategisnya di Arktik dan potensi sumber daya alam yang besar, posisi Greenland menjadi incaran kekuatan besar dalam persaingan geopolitik global. (Wikipedia)


Trump dan Retorika Aneksasi yang Memicu Krisis Diplomatik

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mencetuskan pernyataan bahwa AS “membutuhkan Greenland dari sudut pandang keamanan nasional”, dan bahkan menyiratkan keinginan untuk menganeksasi wilayah ini ke wilayah Amerika. Pernyataan ini muncul tak lama setelah Washington melakukan operasi militer di Venezuela dan memicu kekhawatiran tentang orientasi kebijakan luar negeri AS yang agresif. (detiknews)

Langkah Trump memicu kritik keras dari pejabat Denmark dan Greenland. Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen menyatakan bahwa pernyataan itu sama sekali tidak dapat diterima, menegaskan bahwa Greenland bukan barang yang “untuk dijual atau diambil paksa”, dan bahwa ancaman semacam itu kontraproduktif terhadap hubungan antara sekutu sejarah. (Investing.com Indonesia)

Jens-Frederik Nielsen, Perdana Menteri Greenland, juga secara tegas menolak narasi aneksasi, menyatakan bahwa tekanan semacam itu tidak pantas antara sahabat dan sekutu, serta menyerukan penghormatan terhadap hak menentukan nasib sendiri. (euronews)

Reaksi dari Denmark dan Greenland ini menunjukkan bahwa pernyataan Trump bukan sekadar retorika belaka, tetapi telah dianggap serius oleh pemerintah setempat, walaupun Washington belum mengeluarkan langkah militer konkret dalam hal ini. (Investing.com Indonesia)


Björk dan Solidaritas untuk Kemerdekaan Greenland

Menanggapi ancaman tersebut, Björk, penyanyi dan musisi asal Islandia yang dikenal sering vokal dalam isu politik dan sosial, mengeluarkan pernyataan dukungan bagi kemerdekaan Greenland. Ia menyuarakan solidaritas dengan warga Greenland, mengingatkan tentang sejarah kolonialisme Denmark dan risiko Greenland menjadi korban dominasi baru jika tidak memilih jalur kemerdekaan. (Kursiv Media)

Björk mengunggah pesan di media sosial yang menyerukan warga Greenland untuk mempertimbangkan kemerdekaan dari Denmark sebelum menjadi “kolonialisme baru” di bawah Amerika, merujuk pada sejarah panjang Islandia yang memperoleh kemerdekaan dari Denmark pada 1944. (Kursiv Media)

Reaksi terhadap pernyataan Björk beragam. Beberapa mendukung seruannya yang melihatnya sebagai pernyataan solidaritas moral, sementara kritik di Denmark menyebutnya sebagai narasi berlebihan dan tidak sensitif terhadap hubungan internasional Denmark–Greenland. (Wikipedia)


Sejarah Dinamika Greenland di Panggung Geopolitik

Meskipun seruan Trump dan Björk mencuat sekarang, isu tentang Greenland bukan hal baru. Sejak 2019, ketika Trump pertama kali menyatakan minatnya terhadap Greenland, perdebatan seputar masa depan pulau itu telah menguat di berbagai forum internasional. Pada saat itu, banyak warga Greenland menolak ide untuk bergabung dengan AS, menegaskan preferensi mereka untuk tetap otonom atau merdeka dibanding menjadi bagian dari negara lain. (Wikipedia)

85% warga Greenland dalam survei menolak aneksasi oleh AS dan lebih memilih menentukan masa depan mereka sendiri. Bahkan di Denmark, respons terhadap klaim Trump penuh kecaman, dengan banyak pemimpin politik Eropa menegaskan bahwa masa depan Greenland harus diputuskan oleh rakyat Greenland itu sendiri dan kerajaan Denmark melalui jalur yang sah. (Wikipedia)


Reaksi Internasional: Solidaritas dan Kritik Diplomatik

Pernyataan Trump juga memicu solidaritas dari sekutu Denmark di Eropa. Misalnya, Keir Starmer, pemimpin Partai Buruh Inggris, mendukung posisi Denmark dan menyatakan bahwa masa depan Greenland seharusnya ditentukan oleh rakyat Greenland dan Kerajaan Denmark tanpa tekanan eksternal. (The Guardian)

Banyak negara Eropa melihat ancaman aneksasi sebagai pelanggaran norma internasional, karena Greenland merupakan wilayah bagian dari negara NATO dan memiliki status hukum yang diakui secara luas. Pernyataan Trump dianggap tidak hanya merusak hubungan antara negara sekutu, tetapi juga bisa mengguncang tatanan keamanan pascaperang yang bergantung pada penghormatan terhadap kedaulatan negara. (TIME)


Dinamika dalam Negeri Greenland: Otonomi, Pendanaan, dan Masa Depan

Saat ini, Greenland memiliki status otonomi dalam Kerajaan Denmark, artinya pemerintahan lokal mengelola banyak urusan domestik, tetapi urusan luar negeri dan pertahanan masih berada di tangan Kopenhagen. Greenland juga sangat bergantung pada subsidi ekonomi dari Denmark yang mencakup sekitar setengah anggaran publiknya. Hal ini membuat perdebatan tentang kemerdekaan menjadi sangat kompleks, karena berkaitan dengan masalah ekonomi, pertahanan, dan relasi internasional yang lebih luas. (Wikipedia)

Selain itu, potensi sumber daya mineral penting bagi industri teknologi dan posisi strategis Greenland di kawasan Arktik semakin meningkatkan perhatiannya dalam konteks persaingan geopolitik antara kekuatan besar, seperti AS, Rusia, dan China. (Wikipedia)


Implikasi Geopolitik yang Lebih Luas

Isu Greenland mencerminkan bagaimana strategi geopolitik Arktik telah berkembang dari sekadar kepentingan ekonomi atau lingkungan menjadi isu kedaulatan dan keamanan global. Trump menekankan alasan pertahanan dalam retorikanya, menghubungkan posisi Greenland dengan kebutuhan keamanan AS, terutama melihat dinamika Rusia dan China di kawasan tersebut. (detiknews)

Namun, tekanan politik semacam ini berpotensi memperburuk hubungan antara negara-negara sekutu dan menimbulkan ketidakpastian hukum internasional. Aliansi NATO, hubungan bilateral AS–Denmark, serta masa depan Greenland sebagai wilayah otonom atau negara merdeka menjadi poin penting dalam perdebatan internasional ini. (Investing.com Indonesia)


Kesimpulan: Greenland, Kemerdekaan, dan Persaingan Global

Retorika aneksasi oleh Donald Trump telah menciptakan gelombang reaksi yang kuat di Denmark, Greenland, dan komunitas internasional, termasuk dari seniman seperti Björk yang menyerukan dukungan bagi kemerdekaan Greenland. Meskipun dominasi geopolitik, ketegangan diplomatik, dan kepentingan strategis AS berada di tengah perdebatan ini, suara rakyat Greenland sendiri dan prinsip-prinsip hukum internasional tetap menjadi faktor utama dalam menentukan masa depan pulau Arktik tersebut. (euronews)


Leave a comment

Trending