Tangkapan layar dari video yang dipublikasikan di X pada tanggal 3 Januari 2026, oleh Kementerian Pertahanan Inggris, menunjukkan, menurut kementerian tersebut, sebuah pesawat Angkatan Udara Kerajaan berpartisipasi dalam serangan di Suriah. @DEFENCEHQ/X.COM

Serangan Udara Gabungan di Suriah: Fakta Utama

Pada 3 Januari 2026, pasukan militer Inggris dan Prancis melancarkan operasi udara skala besar bersama menargetkan fasilitas bawah tanah yang diduga digunakan oleh kelompok ekstremis Islamic State (IS/ISIS) di wilayah Suriah tengah, dekat kota kuno Palmyra. Operasi ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan dalam kerangka koalisi internasional yang dipimpin Amerika Serikat dalam Operation Inherent Resolve untuk menekan sisa-sisa organisasi radikal yang masih aktif di kawasan tersebut. (Le Monde.fr)

Serangan udara gabungan ini menunjukkan komitmen militer lanjutan negara-negara Barat dalam strategi kontra-terorisme global, meskipun kelompok ISIS secara resmi kehilangan kekuasaan teritorialnya di Suriah pada 2019. Kelompok ekstremis ini kini beroperasi melalui sel-sel tersembunyi yang tersebar di pegunungan dan gurun, sehingga memerlukan operasi gabungan yang terencana dan cermat untuk membekuk ancaman yang masih ada. (Le Monde.fr)


Rincian Operasi: Strategi dan Alutsista yang Digunakan

Operasi gabungan ini menggunakan pesawat tempur canggih dari Royal Air Force (RAF) Inggris dan Angkatan Udara Prancis untuk menyerang fasilitas bawah tanah yang diyakini digunakan sebagai gudang senjata dan bahan peledak ISIS. Jet tempur Inggris, termasuk Eurofighter Typhoon FGR4, dan pesawat Prancis dilaporkan melancarkan bom berpemandu presisi, menargetkan beberapa terowongan akses yang mengarah ke fasilitas tersebut. (AP News)

Beberapa fakta teknis terkait operasi ini antara lain:

  • Pesawat RAF dan Prancis dilengkapi dengan bom berpemandu Paveway IV, yang merupakan jenis amunisi presisi tinggi untuk meminimalkan kerusakan tidak disengaja. (Wikipedia)
  • Tank pengisian bahan bakar udara (air-to-air refueling tanker) juga digunakan untuk memperluas jangkauan operasional pesawat selama misi. (UK Defence Journal)
  • Serangan berlangsung di malam hari, dengan operasi udara yang disesuaikan untuk menghindari kerusakan struktural yang tidak diinginkan dan risiko terhadap warga sipil, karena lokasi serangan dilaporkan “kosong dari permukiman penduduk”. (The Times of Israel)

Setelah misi selesai, seluruh pesawat yang terlibat dilaporkan kembali dengan selamat ke pangkalan masing-masing, menunjukkan koordinasi yang matang antara militer kedua negara. (UK Defence Journal)


Latar Belakang Konteks: Koalisi Internasional dan ISIS Pasca 2019

Operasi ini menjadi bagian lanjutan dari kampanye internasional yang telah berlangsung lebih dari satu dekade, sejak pembentukan Operation Inherent Resolve pada 2014 sebagai respons terhadap gelombang kekerasan yang dipimpin oleh ISIS di Irak dan Suriah. (Le Monde.fr)

Walaupun ISIS kehilangan kendali atas wilayah luasnya pada 2019, organisasi ini tetap berfungsi sebagai ancaman keamanan:

  • Sel-sel bawah tanah masih aktif merencanakan serangan di Suriah dan Irak. (AP News)
  • Kelompok ini diperkirakan masih memiliki ribuan anggota yang tersisa, menurut laporan PBB dan intelijen internasional. (Le Monde.fr)
  • Koalisi internasional terus melakukan operasi udara, intelijen, dan penahanan terhadap anggota atau simpatisan ISIS yang masih mencoba memulihkan jaringan mereka. (Wikipedia)

Di era pasca-2019, strategi koalisi telah berkembang untuk:

  • Mengintegrasikan intelijen multi-negara,
  • Melibatkan drone pengintai,
  • Memperluas target operasi untuk menghancurkan infrastruktur penyimpanan senjata,
  • Mendukung upaya kontra-terorisme lokal di berbagai wilayah di Timur Tengah. (Le Monde.fr)

Tujuan dan Implikasi Strategis Serangan

Operasi udara ini memiliki beberapa tujuan strategis utama:

1. Mencegah Kebangkitan Kembali ISIS

Walau ISIS tidak lagi menguasai wilayah, ada kekhawatiran bahwa jika fasilitas logistik seperti gudang senjata bawah tanah tidak dihancurkan, kelompok ini bisa berkembang kembali dan meningkatkan serangan baik di dalam wilayah Suriah maupun di luar negeri. (Le Monde.fr)

2. Menunjukkan Komitmen Aliansi Militer Barat

Serangan ini juga bertujuan mempertegas komitmen Inggris dan Prancis untuk terus bekerja sama dalam kontra-terorisme global, termasuk melalui dukungan terhadap koalisi yang dipimpin AS. Hal ini penting untuk mempertahankan stabilitas regional di Timur Tengah dan mengurangi ancaman terhadap sekutu di kawasan ini dan Eropa. (UK Defence Journal)

3. Memperkuat Peran Operasi Udara Presisi

Dengan melibatkan bom berpemandu dan kemampuan air refueling, pihak koalisi menunjukkan bahwa operasi modern kini semakin mengandalkan teknologi presisi tinggi untuk mengurangi risiko terhadap warga sipil sambil memaksimalkan dampak terhadap target strategis. (UK Defence Journal)


Reaksi dan Dampak Regional

Pemerintah Inggris menegaskan operasi ini dilakukan disiplin dan bertujuan menghadapi ancaman yang masih ada dari ISIS, serta menekankan perlunya kemitraan internasional yang kuat dalam menghadapi ekstremisme. Menteri Pertahanan Inggris juga menyatakan bahwa operasi seperti ini memperlihatkan konsistensi London dalam bekerja sama dengan sekutu, terutama Prancis, dalam memerangi ancaman global. (Mureks)

Pihak Prancis juga mengonfirmasi keterlibatannya dalam operasi dan menegaskan bahwa serangan tersebut merupakan bagian dari upaya kolektif untuk menjaga keamanan global dan stabilitas di wilayah yang bergejolak ini. (vietnam.vn)

Interaksi ini terjadi di tengah dinamika geopolitik yang kompleks, termasuk konflik internal Suriah, pergeseran aliansi regional, serta isu-isu lain seperti keterlibatan negara-negara non-negara di Timur Tengah dalam konflik berkepanjangan. (Wikipedia)


Kesimpulan: Operasi Sebagai Bagian dari Kontra-Terorisme Global

Serangan udara gabungan Inggris–Prancis pada awal Januari 2026 mencerminkan bahwa ancaman ISIS belum sepenuhnya hilang, meskipun wilayah teritorialnya runtuh hampir satu dekade lalu. Koalisi internasional terus merespon melalui operasi militer terkoordinasi untuk mencegah kebangkitan kembali jaringan ekstremis yang berbahaya. (Le Monde.fr)

Kolaborasi ini penting bukan hanya untuk keamanan Suriah, tetapi juga sebagai upaya meredam potensi eksploitasi kelompok militan di berbagai negara lain, sekaligus menunjukkan peran negara-negara Eropa Barat dalam kampanye kontra-terorisme global yang lebih luas.


Leave a comment

Trending