Presiden Alexander Lukashenko

Belarus secara resmi menjadi salah satu anggota “Board of Peace” — sebuah inisiatif perdamaian yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump — meskipun keikutsertaan negara itu memicu keterkejutan dan perdebatan di kalangan pengamat internasional karena peran Presiden Alexander Lukashenko yang kontroversial, sejarah represi politik di Minsk, serta posisi strategis Belarus dalam konflik Eropa Timur. (euronews)

Berita ini menjadi salah satu perkembangan penting dalam dinamika diplomasi global awal 2026, memberi sinyal tentang perubahan pola hubungan internasional dan peran negara-negara yang selama ini terisolasi di panggung global.


Apa Itu “Board of Peace”?

“Board of Peace” adalah sebuah badan internasional yang diluncurkan pada 15 Januari 2026 di sela-sela World Economic Forum di Davos, Swiss, dengan tujuan awalnya untuk mendukung penyelesaian konflik di Gaza dan memperluas mandatnya ke penyelesaian konflik global lain. Inisiatif ini diperkenalkan oleh Presiden AS Donald Trump sebagai kerangka baru diplomasi perdamaian, yang menurutnya akan “bekerja sama dengan PBB” meskipun struktur dan aturan organisasi ini menimbulkan kekhawatiran di banyak negara. (Wikipedia)

Organisasi ini diwujudkan melalui piagam yang memberikan kekuasaan luar biasa kepada Trump sebagai Ketua Dewan untuk masa hidupnya, termasuk wewenang tunggal untuk menetapkan agenda, memutuskan keanggotaan, dan mengadopsi resolusi tanpa perlu persetujuan kolektif anggota lainnya. (Wikipedia)

Untuk menjadi anggota tetap, negara diwajibkan untuk membayar kontribusi sebesar US$1 miliar, meskipun beberapa pihak berkomentar bahwa kontribusi ini dapat dinegosiasikan atau ditangguhkan berdasarkan kerja sama dan janji politik tertentu. (Wikipedia)


Belarus Bergabung: Keterkejutan dan Optimisme Terselubung

Pada akhir Januari 2026, Belarus mengumumkan keikutsertaannya dalam Board of Peace, menjadikannya salah satu dari puluhan negara yang secara resmi menyatakan dukungan terhadap inisiatif ini. Keputusan ini diungkapkan melalui pernyataan pejabat Belarus yang disampaikan kepada Sekretaris Negara AS Marco Rubio, yang bertindak sebagai depositori piagam organisasi itu. (Anadolu Ajansı)

Pemerintah Belarus menyatakan bahwa keikutsertaan mereka bukan hanya simbolis, tetapi mencerminkan niat negara itu berkontribusi pada upaya perdamaian, termasuk kemungkinan peran dalam meredakan konflik di Ukraina — meskipun pernyataan itu disampaikan dengan kehati-hatian. (Anadolu Ajansı)

Dalam pernyataannya, Presiden Lukashenko menyatakan bahwa partisipasi Belarus mungkin membuka ruang baru bagi peran Minsk sekaligus memperluas kerja sama internasional, termasuk terhadap isu-isu konflik yang lebih luas dari sekadar Gaza. (Anadolu Ajansı)


Latar Belakang Alexander Lukashenko dan Belarus

Alexander Lukashenko, yang telah memimpin Belarus sejak 1994, dikenal sebagai salah satu pemimpin paling lama menjabat di Eropa dan sering kali dikategorikan sebagai figur otoriter karena catatan panjangnya dalam menekan oposisi politik, pembatasan kebebasan sipil, dan politik represif terhadap lawan-lawan rezimnya. (Wikipedia)

Belarus menjadi sangat bergantung pada dukungan politik dan ekonomi dari Rusia, terutama sejak berlangsungnya perang antara Rusia dan Ukraina, di mana Minsk sering dipandang sebagai sekutu strategis Moskow. (Wikipedia)

Namun, dalam beberapa bulan terakhir, terjadi relaksasi hubungan dengan Barat, termasuk pembebasan beberapa tahanan politik ternama — seperti peraih Nobel Ales Bialiatski dan tokoh oposisi lain — di bawah mediasi pihak AS, sekaligus pencabutan sebagian sanksi terhadap ekspor potash Belarus. (Reuters)

Langkah ini menandai pergeseran arah diplomasi Minsk dalam beberapa posisi, meskipun para analis mencatat bahwa perubahan ini berlangsung secara berhati-hati dan pragmatis.


Reaksi Internasional: Skeptisisme Meski Ada Dukungan

Keikutsertaan Belarus dalam Board of Peace menarik perhatian dan kekhawatiran dari berbagai belahan dunia.

1. Eropa Menyuarakan Kekhawatiran

Uni Eropa dan beberapa negara anggota menyatakan keprihatinan bahwa struktur Board of Peace dapat mengkonsentrasikan kekuasaan secara berlebihan pada satu tokoh — yaitu Trump — dan beroperasi di luar kerangka hukum internasional yang selama ini ditopang oleh PBB dan piagamnya. (Reuters)

Dokumen internal dari European External Action Service (EEAS) menunjukkan bahwa beberapa pejabat Eropa menilai model tersebut bisa mengganggu prinsip-prinsip tata kerja global yang selama ini dijaga oleh PBB — terutama soal independensi hukum dan keterlibatan kolektif negara anggota. (Reuters)

Politisi dari beberapa negara anggota lainnya, termasuk Prancis dan Spanyol, juga menolak bergabung dalam Board of Peace, dengan alasan bahwa organisasi itu bisa mengikis otoritas badan internasional yang sudah ada dan menciptakan struktur baru yang tidak akuntabel. (Reuters)


2. Pandangan Optimis dari Anggota yang Bergabung

Di sisi lain, negara-negara seperti Hungaria, Bulgaria, dan Uni Emirat Arab telah menyatakan dukungan terhadap Board of Peace sebagai wadah baru untuk memperkuat dialog atas konflik global, dengan harapan bahwa mekanisme ini dapat membantu mempercepat kemajuan sebagian isu yang stagnan di organisasi internasional tradisional. (Reuters)

Pendukung inisiatif ini mengartikannya sebagai upaya inovatif atau komplementer, bukan sebagai pengganti PBB, yang diharapkan dapat menjembatani perbedaan dalam konteks diplomasi yang lebih fleksibel dan pragmatis dalam menangani konflik yang kompleks — seperti di Timur Tengah dan kawasan lain. (The Washington Post)


Dinamika Global: Peluang dan Tantangan Diplomasi Baru

Board of Peace mencerminkan sebuah upaya untuk menata ulang dinamika diplomasi internasional pasca-pandemi, serta respons terhadap konflik yang mengakar. Ia menunjukkan bahwa berbagai negara, termasuk yang selama ini terpinggirkan dalam struktur diplomasi tradisional, kini memiliki saluran baru untuk berpartisipasi dalam proses penyelesaian sengketa antar bangsa.

Namun, tantangan utama tetap ada, yakni:

  • legitimasi internasional organisasi baru seperti ini dibandingkan badan yang telah mapan seperti PBB,
  • keterlibatan aktor yang dianggap kontroversial,
  • serta kemungkinan bahwa struktur ini menempatkan banyak kekuasaan pada satu figur politik tanpa mekanisme checks and balances yang efektif. (Wikipedia)

Implikasi bagi Belarus

Keikutsertaan Belarus dalam Board of Peace membuka mata baru terhadap pergeseran posisi Minsk di panggung global. Selama ini, negara tersebut mengalami isolasi diplomatik dan sanksi Barat karena catatan HAM dan pendukungannya terhadap perang di Ukraina. Namun kehadiran di forum baru ini menandai potensi pembukaan hubungan internasional yang lebih luas, sekaligus ruang bagi Minsk untuk menyuarakan perannya dalam proses perdamaian kompleks dunia.

Hal ini tidak hanya berdampak diplomatik, tetapi juga membuka peluang kerja sama ekonomi dan politik lebih jauh dengan negara-negara lain yang turut serta, serta memberikan Belarus ruang untuk memposisikan dirinya sebagai negara yang lebih responsif terhadap inisiatif penyelesaian konflik global.


Kesimpulan

Belarus bergabung dengan Board of Peace merupakan salah satu berita yang mencerminkan dinamika baru dalam diplomasi global awal 2026 — sebuah perubahan yang memberi peluang sekaligus tantangan.

Di satu sisi, partisipasi Minsk menunjukkan bahwa negara-negara yang selama ini terisolasi dapat masuk dalam percaturan diplomatik besar, mencari relevansi baru, serta memainkan peran dalam upaya perdamaian global. Di sisi lain, struktur organisasi dan legitimasi Board of Peace masih menjadi bahan diskusi dan kritik di tataran internasional, terutama di kalangan negara-negara Eropa dan pendukung sistem multilateralisme yang dibangun melalui PBB.

Dengan konstelasi yang terus berkembang ini, dunia menyaksikan bagaimana diplomasi dan upaya penyelesaian konflik semakin kompleks, menghadirkan ruang dialog baru sekaligus menantang norma-norma internasional yang telah lama ada.


Leave a comment

Trending