
Pada awal Januari 2026, isu geopolitik global kembali memanas setelah Presiden Donald Trump dari Amerika Serikat memperbarui retorika tentang keinginannya untuk memperoleh Greenland, sebuah wilayah otonom di bawah Kerajaan Denmark. Klaim ini, meskipun sering dibungkus sebagai bagian dari strategi keamanan nasional AS, telah memicu reaksi keras dari negara-negara Eropa, Denmark, dan sekutu NATO lainnya. Situasi ini menjadi salah satu tes terbesar bagi hubungan transatlantik sejak Perang Dingin, serta menimbulkan pertanyaan serius tentang legitimasi kedaulatan, supremasi hukum internasional, dan masa depan aliansi keamanan global. (Wikipedia)
1. Sejarah Ambisi AS atas Greenland: Kembali Mencuat
Ambisi Amerika Serikat terhadap Greenland bukan fenomena baru. Sejak pemerintahan Trump pertama kali pada tahun 2019, ia pernah menyatakan minatnya untuk membeli pulau ini dari Denmark, menyamakan ide tersebut sebagai “kesepakatan real estate besar”. Meskipun Denmark menolak secara tegas, ide tersebut terus muncul kembali selama periode berikutnya. (Wikipedia)
Dalam pidato di depan Kongres AS pada 4 Maret 2025, Trump bahkan mengatakan, “satu cara atau lain, kita akan mendapatkannya,” meskipun upaya itu bertentangan dengan keinginan warga Greenland sendiri. (Wikipedia)
Seiring krisis global terus berkembang, Trump mengubah retorikanya dari pembelian menjadi klaim strategis yang lebih luas, menekankan bahwa Greenland sangat penting untuk keamanan nasional AS, terutama menghadapi Rusia dan China di Arktik. (The Irish Times)
2. Mengapa Greenland Begitu Penting Secara Geopolitik?
Greenland bukan hanya pulau es terpencil—ia memegang nilai strategis global yang besar, baik dari aspek militer, sumber daya, maupun geografis.
a. Posisi Strategis di Arktik
Greenland terletak di rute penting antara Amerika Utara dan Eropa, memberi potensi kontrol signifikan terhadap pola pengawasan dan mobilisasi militer di kawasan Arktik yang semakin menjadi arena persaingan global. Kecepatan perubahan iklim membuka akses pelayaran baru dan menguatkan nilai strategis Arktik sebagai jalur perdagangan dan militer. (The Irish Times)
b. Basis Militer AS yang Kritikal
Greenland telah menjadi tuan rumah bagi basis militer penting, Pituffik Space Base (sebelumnya Thule Air Base), yang kini berada di bawah kendali United States Space Force. Basis ini memainkan peran vital dalam sistem pengawasan awal balistik AS. (Wikipedia)
c. Sumber Daya Alam yang Bernilai Tinggi
Daerah ini punya potensi besar untuk sumber daya penting seperti bijih logam tanah jarang, mineral untuk teknologi hijau (litium, nikel, kobalt), yang menjadi target berbagai negara termasuk China yang mendominasi produksi global. Menguasai Greenland bisa menjadi cara AS mengurangi ketergantungan pada sumber daya asing. (The Irish Times)
3. Pernyataan dan Opsi AS: Diplomasi, Pembelian, atau Tentara
Pemerintahan Trump kembali menjadikan Greenland sebagai prioritas keamanan dan strategi luar negeri, dengan Gedung Putih mengonfirmasi bahwa pembicaraan tentang kemungkinan pembelian wilayah ini secara diplomatik sedang berlangsung. Namun, tidak hanya itu: pejabat AS juga menyatakan bahwa opsi militer “selalu ada di atas meja” jika perlu, meskipun ini sangat kontroversial dan berpotensi mengubah tatanan global. (AP News)
Meski Trump dan timnya kadang menegaskan bahwa pembelian atau akuisisi melalui jalur diplomatik lebih diutamakan, pernyataan tentang potensi penggunaan militer telah menjadi sumber kecaman global yang luas dan memperburuk ketegangan transatlantik. (Reuters)
4. Penolakan Keras Denmark dan Greenland
Reaksi Denmark dan pemerintah Greenland sangat tegas. Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen menegaskan bahwa Greenland bukan untuk dijual, dan pilihan masa depannya hanya bisa ditentukan oleh rakyat Greenland sendiri. Frederiksen secara terbuka memperingatkan bahwa segala upaya AS untuk mengambil alih wilayah sekutu NATO, baik secara paksa maupun dengan tekanan geopolitik, bisa mengakhiri keberadaan dan tujuan aliansi tersebut. (Reuters)
Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen juga mengecam keras pernyataan Trump, menyatakan “cukup sudah” terhadap tekanan yang ada dan menegaskan dukungan penuh bagi kepatuhan terhadap hukum internasional serta menghormati keputusan internal Greenland. (TIME)
Mayoritas besar warga Greenland juga menolak ide bergabung dengan AS, dengan survei menunjukkan lebih dari 85% menolak gagasan tersebut. (Wikipedia)
5. Solidaritas Global: Eropa dan NATO Menengah Ketegangan
Reaksi dari sekutu NATO dan negara-negara Eropa sangat jelas: mereka menolak klaim sepihak tersebut dan menyatakan bahwa status Greenland adalah urusan Denmark dan rakyat Greenland sendiri. Kepemilikan paksa atau campur tangan tanpa persetujuan akan menjadi pelanggaran hukum internasional yang serius. (Wikipedia)
Euroepan Union termasuk, serta para pemimpin seperti Presiden Prancis, Kanselir Jerman, dan Perdana Menteri Inggris, menandatangani pernyataan bersama yang menegaskan kedaulatan, integritas wilayah, dan inviolabilitas perbatasan berdasarkan prinsip hukum internasional. (Wikipedia)
Kekhawatiran terbesar mereka adalah bahwa langkah semacam itu tidak hanya merusak hubungan bilateral tetapi bisa memicu retakan besar dalam NATO, sebuah aliansi yang telah menopang keamanan bersama selama lebih dari 80 tahun. (TIME)
6. Risiko dan Implikasi bagi NATO dan Tata Keamanan Global
a. Fragmentasi NATO
Jika AS benar-benar menggunakan opsi militer untuk mengambil Greenland, ini akan bertentangan langsung dengan prinsip dasar NATO yang menegaskan solidaritas dan kolektivitas, bukan ambisi unilateral. Denmark telah memperingatkan bahwa operasi semacam itu akan menandai akhir aliansi yang telah dikenal sejak Perang Dunia II. (Bloomberg Technoz)
b. Konsekuensi bagi Tatanan Internasional
Intervensi semacam itu juga akan melemahkan prinsip supremasi hukum internasional, yang melarang aneksasi wilayah dengan paksa. Banyak pakar menilai bahwa tindakan AS akan menjadi bencana strategis yang meluas, membuka pintu apresiasi terhadap perolehan wilayah melalui tekanan atau intervensi. (Foreign Policy)
c. Dampak Diplomatik AS
Ambisi Trump ini telah menimbulkan kekhawatiran global bahwa AS mungkin menerapkan pendekatan luar negeri yang lebih agresif dan unilateral daripada sebelumnya, yang sama sekali berbeda dari posisi tradisional yang menekankan aliansi dan kerja sama multilateral. (The Washington Post)
7. Reaksi Internasional yang Lebih Luas
Selain dukungan Eropa untuk Denmark, reaksi global juga menyuarakan penolakan terhadap ancaman tersebut. Para pemimpin dunia memperingatkan bahwa keamanan kolektif, aturan hukum internasional, dan hak menentukan nasib sendiri adalah prinsip fundamental yang harus dihormati. Tidak sedikit juga analis mengaitkan isu Greenland dengan kekhawatiran atas dominasi China dan Rusia di Arktik, memperlihatkan kompleksitas geopolitik yang terlibat. (The Irish Times)
8. Apa Arti Semua Ini untuk Greenland Sendiri?
Greenland, dengan populasi sekitar 57.000 jiwa, memiliki pemerintahan internal sendiri, namun urusan luar negeri dan pertahanan masih berada di bawah kerajaan Denmark. Ada kegelisahan bahwa tekanan geopolitik bisa mempercepat diskusi tentang kemerdekaan penuh atau perubahan status politiknya, meskipun itu tetap merupakan keputusan internal yang harus diambil rakyat Greenland. (Wikipedia)
Kesimpulan: Greenland di Persimpangan Geopolitik
Isu Greenland pada awal 2026 telah berubah dari diskursus tradisional tentang sumber daya atau lokasi strategis menjadi krisis diplomatik dan simbol tantangan tata keamanan global. Ambisi Donald Trump untuk mengakuisisi Greenland—baik melalui diplomasi, pembelian, atau bahkan ancaman militer—telah memicu:
- Perlawanan tegas dari Denmark dan rakyat Greenland
- Solidaritas Eropa dan sekutu NATO lainnya
- Kekhawatiran tentang masa depan aliansi keamanan global
- Peringatan kuat tentang supremasi hukum internasional dan kedaulatan negara
Apa pun hasilnya, krisis ini menjadi titik balik dalam sejarah hubungan transatlantik dan geopolitik Arktik, serta sebuah pengingat bahwa kedaulatan, hak menentukan nasib sendiri, dan hukum internasional tetap menjadi tulang punggung tatanan dunia di tengah tekanan geopolitik yang meningkat. (Wikipedia)





Leave a comment