
BRUSSEL — Ribuan demonstran turun ke jalan-jalan di berbagai ibu kota dan kota besar di Eropa untuk menyuarakan solidaritas bagi rakyat Iran. Aksi unjuk rasa global ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan regional akibat perang yang melibatkan Iran melawan Amerika Serikat dan Israel, serta gejolak domestik yang terus mengguncang Teheran.
Meskipun bersatu dalam visi besar untuk menumbangkan rezim ulama (ayatollah) yang saat ini berkuasa di Iran, massa di Eropa terpecah menjadi dua kubu ideologis yang berbeda mengenai masa depan politik negara tersebut: kelompok pro-monarki dan kelompok pro-demokrasi.
Polarisasi Masa Depan Iran: Mahkota vs Republik
Di satu sisi, kelompok loyalis pro-monarki berkumpul dengan membawa bendera singa dan matahari (simbol kuno Iran pra-revolusi). Mereka menyuarakan dukungan penuh bagi Reza Pahlavi, putra mahkota Iran yang berada di pengasingan, dan menuntut pemulihan sistem monarki yang runtuh sejak Revolusi Islam tahun 1979.
Di sisi lain, kelompok pro-demokrasi dan sayap kiri menolak keras kembalinya sistem kerajaan. Mereka menuntut pembentukan pemerintahan republik yang sekuler, demokratis, dan menjamin hak-hak sipil tanpa adanya pengaruh dari dinasti masa lalu maupun otoritas agama.
“Kami semua sepakat bahwa rezim saat ini harus runtuh. Namun, masa depan Iran harus ditentukan oleh rakyat, bukan kembali ke masa lalu,” ujar salah satu demonstran di Brussel.
Konteks Krisis yang Memanas
Gelombang protes di diaspora Eropa ini merupakan imbas dari krisis multidimensi yang terjadi di Iran sejak akhir tahun lalu. Gelombang unjuk rasa di dalam negeri Iran—yang dipicu oleh krisis ekonomi, inflasi yang meroket, serta sanksi internasional—kini semakin tereskalasi menyusul konfrontasi militer terbuka dan serangan udara yang melibatkan kekuatan asing.
Meskipun ada perbedaan pandangan yang tajam mengenai model pemerintahan masa depan, para aktivis di Eropa menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah memberikan tekanan internasional yang maksimal terhadap pemerintah Iran dan menghentikan kekerasan terhadap warga sipil di sana.






Leave a Reply