Péter Magyar, pemimpin Partai Tisza yang konservatif dan pro-Eropa, berbicara dalam sebuah konferensi pers pada hari Senin, sehari setelah kemenangan pemilu yang telak. (Attila Kisbenedek)

BUDAPEST — Kelompok Visegrad (V4)—aliansi politik empat negara Eropa Tengah yang pernah memiliki pengaruh besar dalam politik Uni Eropa (UE)—kini dilaporkan berada di ambang kebangkitan kembali atau memasuki “fase kedua”. Potensi ini muncul menyusul perubahan lanskap politik yang drastis di Hungaria, yang mengakhiri isolasi diplomatik negara tersebut selama beberapa tahun terakhir.

Aliansi V4 yang beranggotakan Polandia, Slowakia, Ceko, dan Hungaria ini dibentuk setelah runtuhnya komunisme untuk menyelaraskan integrasi mereka ke dalam institusi Barat. Walau bagaimanapun, hubungan internal kelompok ini sempat retak parah setelah invasi penuh Rusia ke Ukraina pada tahun 2022. Kala itu, Perdana Menteri Hungaria, Viktor Orbán, memilih untuk mempertahankan hubungan dekat dengan Moskow—sebuah tindakan yang memicu ketegangan besar, terutama antara Budapest dan Warsawa yang sangat mendukung Ukraina.

Hasil Pemilu Hungaria Picu Dampak Besar

Ketegangan politik tersebut berakhir setelah kemenangan besar Péter Magyar dalam pemilihan umum Hungaria, yang sekaligus mengakhiri masa pemerintahan Orbán selama 16 tahun. Pemimpin baru Hungaria itu bertindak cepat untuk memulihkan hubungan diplomatik regional.

Sebagai isyarat jelas atas perubahan kebijakan luar negerinya, PM Péter Magyar memilih Polandia sebagai destinasi kunjungan resmi pertamanya ke luar negeri. Ia menyebut kunjungan tersebut bukan hanya sebagai langkah diplomatik yang penting, melainkan juga sebagai penanda simbolis dari “awal baru” (restart) hubungan persahabatan yang telah terjalin berabad-abad antara kedua negara.

Lebih dari itu, Magyar memosisikan kunjungan tersebut sebagai titik balik dari upaya yang lebih luas untuk menghidupkan kembali Kelompok Visegrad. Ia menyatakan bahwa Hungaria kini bersiap sepenuhnya untuk mengaktifkan kembali kerja sama V4 dan sedang berupaya menyelenggarakan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) V4 di Budapest pada akhir Juni mendatang.

Keinginan Bersama Mengimbangi Kekuatan Uni Eropa

Beberapa sumber diplomatik mengungkapkan bahwa hasrat untuk menghidupkan kembali aliansi ini tidak hanya terbatas di Budapest. Negara-negara tetangga dalam blok tersebut juga melihat peluang untuk kembali bekerja sama. Setelah beberapa tahun mengalami keretakan akibat isu geopolitik Rusia-Ukraina, keempat negara kini menyadari bahwa mereka memiliki lebih banyak persamaan daripada perbedaan.

Kendati demikian, bentuk praktis dari pengaktifan kembali V4 ini masih belum dapat dipastikan sepenuhnya. Pertanyaan utama yang timbul adalah apakah kelompok ini mampu meraih kembali pengaruh besarnya dalam dinamika kekuatan Uni Eropa, yang sering kali dinilai oleh sebagian pemimpin Eropa Tengah dan Timur terlalu didominasi oleh negara-negara anggota di bagian Barat.

Selain itu, tantangan lain bagi V4 adalah menemukan fokus baru. Banyak agenda yang pernah diperjuangkan secara agresif oleh kelompok ini dahulu—seperti kontrol imigrasi yang lebih ketat dan kebijakan yang ramah bisnis—kini telah diadopsi dan menjadi bagian dari arus utama politik di sebagian besar negara Uni Eropa lainnya.

Para analis memperkirakan bahwa format kerja sama V4 ke depan akan tetap dibuat fleksibel, di mana aliansi akan diperluas secara situasional berdasarkan isu demi isu (issue-by-issue basis). Di tengah era ketidakpastian geopolitik global yang kian meningkat, Kelompok V4 tampaknya memilih untuk bersatu kembali demi memastikan suara wilayah Eropa Tengah terdengar lebih lantang di panggung Brussel.

Leave a Reply

Trending

Discover more from Kabar Eropa

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading