
BRUSSEL – Komisi Eropa tengah mempersiapkan langkah tegas untuk memaksa para produsen otomotif di Benua Biru melakukan diversifikasi pemasok mikrochip. Langkah ini diambil guna memperkuat ketahanan rantai pasok dan menekan ketergantungan yang dinilai berbahaya terhadap vendor tunggal, terutama yang terafiliasi dengan China.
Berdasarkan draf undang-undang terbaru yang bocor ke publik, regulasi bertajuk Chips Act 2 ini akan mewajibkan pabrikan mobil besar seperti Volkswagen, Stellantis, dan Renault untuk membeli komponen semikonduktor dari minimal dua pemasok yang berbeda dalam skenario tertentu. Kebijakan ini dijadwalkan akan diumumkan secara resmi pada 3 Juni 2026 mendatang.
Belajar dari Krisis Nexperia dan Sanksi Geopolitik
Tekanan dari Brussel ini dipicu oleh rentetan gangguan rantai pasok global yang berulang kali memukul industri otomotif Eropa sejak era pandemi. Namun, pemicu utama yang mempercepat lahirnya regulasi ketat ini adalah krisis yang melibatkan Nexperia, produsen chip asal Belanda yang diakuisisi oleh perusahaan China, Wingtech, pada tahun 2019.
Pada akhir tahun 2024, Wingtech masuk ke dalam daftar sanksi Amerika Serikat atas dugaan penggunaan teknologi untuk keperluan militer. Dampak sanksi tersebut akhirnya merembet ke Nexperia. Menanggapi ketegangan geopolitik dengan AS, Beijing kemudian melarang ekspor beberapa jenis chip buatan Nexperia ke Eropa.
Akibatnya, industri otomotif Eropa langsung mengalami kelangkaan pasokan dalam sekejap. Banyak produsen mobil dilaporkan terpojok karena hanya memiliki cadangan stok untuk beberapa bulan saja. Peristiwa ini membuka mata para pejabat Uni Eropa akan rapuhnya strategi pengadaan komponen yang selama ini diterapkan oleh raksasa otomotif mereka.
Aturan Mengikat demi Kedaulatan Teknologi
Juru bicara Komisi Eropa untuk Kedaulatan Teknologi, Thomas Regnier, menyatakan bahwa Chips Act 2 dirancang untuk mencerminkan lanskap teknologi dan situasi geopolitik dunia saat ini. Uni Eropa menilai para produsen lokal belum mengambil tindakan pencegahan yang cukup untuk menghindari ketergantungan pada pemasok strategis tunggal.
Melalui aturan baru yang bersifat mengikat ini, pabrikan mobil diwajibkan untuk memasukkan unsur risiko geopolitik ke dalam setiap keputusan pembelian komponen mereka.
Meskipun draf undang-undang ini masih diperdebatkan secara internal di tingkat Komisi Eropa dan masih berpotensi mengalami penyesuaian akhir sebelum tenggat rilisnya, arah kebijakan Uni Eropa sudah sangat jelas: mengurangi dominasi China di sektor hulu teknologi.
Tantangan bagi Produsen Otomotif Eropa
Bagi produsen mobil seperti Volkswagen atau Renault, aturan baru ini tentu membawa tantangan besar. Melakukan diversifikasi pemasok di industri semikonduktor tidak semudah membalikkan telapak tangan. Proses kualifikasi chip baru agar sesuai dengan standar keselamatan otomotif memerlukan waktu bulanan hingga tahunan, serta biaya yang tidak sedikit.
Namun, di sisi lain, Uni Eropa meyakini bahwa langkah pahit ini harus diambil sekarang. Jika tidak, industri otomotif Eropa—yang menyerap jutaan tenaga kerja—akan selalu tersandera oleh konflik perdagangan global dan kebijakan sepihak dari negara-negara sekutu maupun rival.






Leave a Reply