
YEREVAN – Perdana Menteri Armenia, Nikol Pashinyan, secara resmi mendeklarasikan kemenangan dalam pemilihan umum parlemen yang digelar pada hari Minggu (7/6). Berdasarkan hasil penghitungan suara awal, kemenangan ini diyakini akan semakin memperkuat arah kebijakan luar negeri Armenia yang kini kian condong ke Barat dan Uni Eropa (UE), sekaligus menjauh dari pengaruh tradisional Rusia.
Dalam konferensi pers yang digelar pada Senin (8/6) dini hari waktu setempat, Pashinyan mengumumkan bahwa partai petahana yang dipimpinnya, Partai Kontrak Sipil (Civil Contract Party), telah memenangkan pemilu tersebut. Ia secara terbuka menyebut pencapaian ini sebagai sebuah “kemenangan bersejarah.”
Menurut laporan dari Komisi Pemilihan Umum Pusat Armenia, dengan data yang masuk dari 23,5% tempat pemungutan suara (TPS), Partai Kontrak Sipil memimpin jauh di posisi pertama dengan perolehan 52,5% suara.
Sementara itu, aliansi “Armenia Kuat” (Strong Armenia) yang dipimpin oleh miliarder keturunan Rusia-Armenia, Samvel Karapetyan, berada di urutan kedua dengan mengantongi 23,2% suara. Aliansi “Armenia” pimpinan mantan Presiden Robert Kocharyan menyusul di peringkat ketiga dengan raihan sekitar 9%, diikuti oleh Partai Armenia Sejahtera (Prosperous Armenia Party) yang memperoleh 4,6% suara, memenuhi ambang batas parlemen. Pihak komisi juga mencatat tingkat partisipasi pemilih (turnout) mencapai 59%.
Referendum Kebijakan Perdamaian dan Ketegangan dengan Rusia
Pemilihan umum ini tidak hanya dipandang sebagai kontestasi politik biasa, melainkan juga sebagai referendum atas upaya perdamaian yang diusung Pashinyan dengan negara tetangga, Azerbaijan. Ini merupakan pemungutan suara pertama yang dilakukan sejak kekalahan militer telak Armenia di wilayah Nagorno-Karabakh pada tahun 2023 lalu.
Selama masa kampanye, Pashinyan kerap mendapat kritik tajam dari pihak oposisi. Sebagian masyarakat menuduhnya terlalu banyak memberikan konsesi serta tunduk pada tuntutan Azerbaijan dalam kesepakatan damai yang dimediasi oleh Amerika Serikat pada Agustus tahun lalu.
Kendati demikian, hasil pemilu sementara menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat Armenia memberikan mandatnya kepada Pashinyan untuk melanjutkan pendekatan politiknya menuju integrasi Eropa. Sebaliknya, aliansi “Armenia Kuat” yang menjadi rival terdekatnya justru mendorong agar Armenia tetap mempertahankan hubungan yang erat dengan Rusia, yang selama ini menjadi mitra dagang utama dan pemasok energi terbesar bagi negara tersebut.
Pendekatan Armenia ke Eropa ini sempat memicu kemarahan Moskow. Pada bulan lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin bahkan memberikan peringatan tersirat mengenai dampak ekonomi negatif yang akan dihadapi Yerevan jika memilih menjauh dari Rusia. Peringatan tersebut kemudian diwujudkan secara nyata oleh Rusia dalam beberapa pekan menjelang pemilu melalui penerapan pembatasan baru terhadap komoditas pertanian impor dari Armenia, termasuk produk bunga dan sayur-sayuran.
Diwarnai Penangkapan dan Tuduhan Pelanggaran
Proses pemilu kali ini juga diselimuti oleh ketegangan hukum dan keamanan. Media setempat melaporkan bahwa aparat kepolisian sempat melakukan penggeledahan di kantor aliansi oposisi “Armenia Kuat” di kota Gyumri dan menahan beberapa orang.
Secara total, pihak kepolisian mengonfirmasi telah mengamankan lebih dari 10 orang atas dugaan praktik politik uang (vote-buying). Selain itu, tiga anggota komisi pemilihan lokal juga turut ditahan oleh pihak berwenang pada malam hari sebelum penghitungan selesai.
Meskipun hasil akhir yang resmi dan menyeluruh baru akan dirilis oleh Komisi Pemilihan Umum pada Senin siang, keunggulan mutlak yang diperoleh Partai Kontrak Sipil menunjukkan sinyal kuat bahwa Armenia akan terus melangkah mantap menuju integrasi yang lebih erat dengan Barat.






Leave a Reply