X @Keir_Starmer

BRUSSEL – Uni Eropa (UE) secara resmi mengumumkan sedang melakukan evaluasi ulang terhadap rencana Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) bersama Inggris yang dijadwalkan pada 22 Juli 2026 mendatang. Keputusan ini diambil menyusul pengumuman pengunduran diri Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, yang secara otomatis mengubah peta politik di London serta garis waktu penyerahan kekuasaan kepada penerusnya.

Juru bicara Komisi Eropa, Paula Pinho, dalam konferensi pers di Brussel menyatakan bahwa pihak Uni Eropa bersama dengan Presiden Dewan Eropa, Antonio Costa, kini tengah berkomunikasi dengan pemerintah Inggris. Langkah tersebut diambil guna menilai kembali urgensi serta peluang untuk tetap menyelenggarakan pertemuan bilateral tingkat tinggi tersebut sesuai rencana awal.

“Hubungan kami dengan Inggris akan tetap berjalan dengan kuat. Namun, menanggapi pengumuman pengunduran diri Perdana Menteri Starmer, kami sedang mengkaji ulang bersama Presiden Costa dan pihak Inggris mengenai kepastian pelaksanaan KTT yang baru saja diumumkan pekan lalu,” ujar Pinho pada Senin (22/6/2026).

Ketidakpastian Jadwal Politik Inggris

Sebelumnya, pengumuman KTT yang sedianya digelar di Brussel ini diharapkan menjadi momentum penting untuk mempererat kembali hubungan pasca-Brexit yang sempat renggang. Sejak menjabat pada tahun 2024, Keir Starmer dikenal sangat aktif berupaya memperbaiki komunikasi diplomatik dengan Uni Eropa, tepat satu dekade setelah referendum Brexit yang bersejarah pada tahun 2016.

Namun, keputusan Starmer untuk meletakkan jabatan memaksa Uni Eropa bersikap realistis. Proses transisi kepemimpinan di Downing Street diperkirakan memakan waktu beberapa minggu. Saat ini, Wali Kota Greater Manchester, Andy Burnham, muncul sebagai kandidat kuat yang difavoritkan untuk menggantikan Starmer memimpin Partai Buruh sekaligus menduduki kursi Perdana Menteri. Jika Burnham tidak menghadapi penantang lain dalam proses nominasi internal hingga pertengahan Juli, ia diprediksi dapat resmi menjabat hanya beberapa hari sebelum tanggal KTT yang direncanakan.

Meskipun demikian, sempitnya waktu transisi ini dinilai sangat berisiko bagi persiapan sebuah KTT formal. Presiden Dewan Eropa, Antonio Costa, mengonfirmasi kemungkinan besar adanya penundaan jadwal. “Kami jelas perlu menundanya, tetapi kami tetap mengevaluasi setiap peluang. Harapan saya, siapa pun penerusnya nanti akan melanjutkan jalur ini untuk menata ulang hubungan baik dengan Uni Eropa,” ungkap Costa.

Agenda Krusial yang Tertunda

Pertemuan yang terancam tertunda ini sebenarnya memikul agenda-agenda besar. Kedua belah pihak awalnya memproyeksikan KTT ini sebagai panggung untuk menyepakati sejumlah kerja sama strategis baru. Beberapa poin penting yang masuk dalam pembahasan meliputi standardisasi keamanan pangan dan hewan, program mobilitas pemuda antarkawasan, hingga integrasi sistem perdagangan emisi karbon.

Di sisi lain, publik Inggris sendiri menunjukkan tren yang semakin menginginkan kedekatan dengan benua Eropa. Berdasarkan survei terbaru dari European Council on Foreign Relations (ECFR), sebanyak 57 persen warga Inggris menyatakan bahwa keputusan keluar dari Uni Eropa di masa lalu adalah sebuah kesalahan. Selain itu, tiga perempat responden kini mendukung penuh dijalinnya hubungan yang jauh lebih erat dengan blok ekonomi tersebut.

Apresiasi tinggi juga datang dari Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen. Melalui pernyataan resminya, ia menyampaikan terima kasih mendalam kepada Starmer atas dedikasinya selama dua tahun terakhir yang dinilai berhasil memperkuat stabilitas keamanan di Eropa serta dukungannya terhadap Ukraina. Kini, masa depan arah kebijakan luar negeri Inggris sepenuhnya berada di tangan pemimpin baru yang diharapkan mampu memberikan kepastian hukum bagi Uni Eropa.

Leave a Reply

Trending

Discover more from Kabar Eropa

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading