
VILNIUS – Ketegangan diplomatik antara negara-negara Baltik dan Rusia kembali memanas. Pemerintah Estonia, Latvia, dan Lithuania secara resmi memanggil utusan diplomatik Rusia (Chargé d’Affaires) di ibu kota masing-masing untuk menyampaikan nota protes keras. Langkah ini diambil sebagai respons atas tuduhan sepihak dari Moskow yang menyebut bahwa ketiga negara tersebut berencana melakukan deportasi massal terhadap warga berbahasa Rusia.
Kementerian Luar Negeri Lithuania menegaskan bahwa tuduhan yang dilontarkan oleh Kementerian Luar Negeri Rusia tersebut merupakan kebohongan publik yang tidak berdasar.
“Insinuasi yang disebarkan oleh perwakilan Rusia mengenai rencana deportasi massal penduduk berbahasa Rusia oleh negara-negara Baltik adalah kebohongan total. Tidak pernah ada rencana seperti itu, dan tidak akan pernah ada,” demikian pernyataan resmi dari Kementerian Luar Negeri Lithuania setelah memanggil perwakilan kedutaan Rusia di Vilnius.
Badan Keamanan Negara Lithuania juga mengidentifikasi bahwa tuduhan deportasi tersebut merupakan bagian dari kampanye propaganda terstruktur yang sengaja dirancang oleh Kremlin untuk memicu ketidakstabilan di wilayah Baltik. Sebelumnya, pada Mei lalu, pihak Rusia bahkan sempat mengancam akan membawa negara-negara Baltik ke Mahkamah Internasional (ICJ) dengan tuduhan diskriminasi etnis, yang kemudian langsung ditepis oleh Estonia sebagai upaya pengalihan isu dari agresi militer Rusia di Ukraina.
Tuduhan Terkait Serangan Angkatan Udara
Selain isu deportasi, pemanggilan diplomat Rusia ini juga dipicu oleh pernyataan Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Mikhail Galuzin. Galuzin menuduh negara-negara Baltik sengaja membuka wilayah udara mereka untuk memfasilitasi serangan pesawat tanpa awak (drone) Ukraina ke wilayah Rusia.
Menanggapi hal tersebut, perwakilan diplomatik Estonia, Latvia, dan Lithuania juga melakukan aksi demars bersama di Moskow untuk menolak narasi tersebut. Ketiga negara menegaskan kembali posisi resmi mereka bahwa wilayah udara Baltik tidak pernah dan tidak akan pernah digunakan untuk menyerang target di dalam Rusia. Mereka justru mengingatkan bahwa kemunculan drone asing di wilayah Baltik merupakan dampak langsung dari perang ilegal yang diluncurkan Rusia terhadap Ukraina.
Kecaman Atas Serangan di Kyiv
Di samping persoalan disinformasi, nota protes yang dilayangkan oleh Latvia dan Lithuania juga memuat kecaman keras atas serangan rudal dan drone besar-besaran yang diluncurkan Rusia ke wilayah Kyiv, Ukraina, yang menewaskan puluhan warga sipil serta menghancurkan infrastruktur kota.
Negara-negara Baltik yang juga merupakan anggota NATO dan Uni Eropa ini menegaskan akan terus konsisten menuntut pertanggungjawaban internasional atas kejahatan perang yang dilakukan oleh pihak Rusia di Ukraina.






Leave a Reply