City of Dubrovnik

Dikenal dengan julukan “Mutiara Laut Adriatik” serta kepopulerannya sebagai lokasi syuting serial Game of Thrones, kota bersejarah Dubrovnik di Kroasia sempat menghadapi krisis pariwisata berlebih (overtourism). Lonjakan jumlah pengunjung yang drastis sempat mengancam infrastruktur kota, merusak kenyamanan warga lokal, dan mengancam status Kota Tua Dubrovnik sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Guna mengatasi permasalahan tersebut, Pemerintah Kota Dubrovnik meluncurkan inisiatif komprehensif bertajuk “Respect the City” (Hormati Kota)—sebuah strategi tata kelola pariwisata yang terbukti efektif menekan dampak negatif arus turis tanpa menghilangkan pesona dan daya tarik historis kota.

Salah satu langkah paling signifikan dalam program ini adalah pembatasan ketat terhadap kedatangan kapal pesiar (cruise ship). Sebelum regulasi ini diterapkan, hingga enam kapal pesiar besar dapat berlabuh bersamaan, menurunkan puluhan ribu penumpang yang memadati kawasan Kota Tua dalam jendela waktu yang sangat singkat. Melalui kesepakatan dengan Organisasi Pariwisata dan Asosiasi Kapal Pesiar Internasional (CLIA), kini Dubrovnik membatasi kuota maksimal hanya dua kapal pesiar per hari, dengan batasan akumulasi 4.000 penumpang dalam satu waktu. Selain itu, kapal diwajibkan bersandar minimal selama delapan jam untuk memberikan waktu eksplorasi yang lebih terdistribusi dan tidak menumpuk di titik-titik tertentu.

Selain armada laut, Dubrovnik juga membenahi kenyamanan lingkungan pemukiman dengan memberlakukan aturan unik terkait suara bising. Salah satunya adalah imbauan dan larangan menyeret koper berroda di atas jalan berbatu (cobblestone) kawasan Kota Tua. Kebisingan dari roda koper yang bergesekan dengan batu purba pada dini hari dan malam hari telah menjadi salah satu keluhan utama penduduk setempat. Wisatawan kini diminta mengangkat koper mereka atau menggunakan layanan pengantar barang berbasis kendaraan listrik yang disediakan dari titik penampungan di luar benteng kota. Pemerintah kota juga menetapkan batas maksimal desibel suara untuk area makan luar ruangan pada restoran dan kafe.

Pengelolaan arus pejalan kaki dan lalu lintas kendaraan turut didukung oleh pemanfaatan teknologi pintar. Bus pariwisata kini wajib memesan slot kedatangan secara digital sebelum memasuki area gerbang utama guna mencegah kemacetan panjang. Di dalam kawasan benteng, ruang publik dikembalikan fungsinya untuk pejalan kaki dengan mengurangi jumlah meja dan kursi luar ruangan milik restoran hingga 30 persen, serta memangkas stan cenderamata di alun-alun kota hingga 80 persen. Langkah ini berhasil memperlancar alur lalu lintas manusia di jalan utama Stradun.

Edukasi wisatawan juga menjadi kunci keberhasilan strategi ini. Pemerintah kota menyiarkan video animasi edukatif “Respect the City” di dalam penerbangan menuju Kroasia dan kapal pesiar. Video tersebut mengajak wisatawan untuk menghormati norma lokal, seperti berbusana sopan di luar area pantai, tidak memanjat cagar budaya, serta tidak mengendarai sepeda atau skuter listrik di zona pejalan kaki.

Melalui pendekatan berbasis kemitraan dan tata kelola yang berkelanjutan, Dubrovnik membuktikan bahwa pariwisata massal dapat dikendalikan dengan baik. Langkah-langkah inovatif ini kini menjadi acuan global bagi kota-kota bersejarah dunia dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi pariwisata dan kualitas hidup warga lokal.

Leave a Reply

Trending

Discover more from Kabar Eropa

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading