Ilustrasi Mineral Kritis

Uni Eropa (UE) berencana memperkuat ketahanan ekonominya dengan menimbun cadangan mineral kritis, seperti litium, nikel, dan kobalt. Langkah ini diambil sebagai antisipasi terhadap meningkatnya ketegangan geopolitik global yang berisiko mengganggu pasokan bahan baku penting untuk industri energi terbarukan, kendaraan listrik, dan teknologi tinggi.

Langkah ini merupakan bagian dari implementasi Critical Raw Materials Act (CRMA) yang resmi berlaku pada 23 Mei 2025. Dalam kebijakan tersebut, UE menetapkan target ambisius: minimal 10% dari konsumsi tahunan bahan mentah harus berasal dari sumber domestik, 15% dari daur ulang, dan tidak lebih dari 65% dari satu negara pemasok tunggal.

Wakil Presiden Komisi Eropa, Maroš Šefčovič, menyatakan bahwa ketergantungan berlebihan pada pemasok seperti Tiongkok dan Rusia menempatkan industri strategis Eropa dalam risiko besar. Oleh karena itu, UE mendorong pembangunan rantai pasok internal, peningkatan kerja sama dengan negara mitra seperti Kanada dan Australia, serta investasi dalam proyek pertambangan berkelanjutan di kawasan.

Para analis menilai bahwa kebijakan ini mencerminkan keseriusan UE dalam melindungi transisi hijau dan agenda digitalnya dari tekanan eksternal. Selain itu, cadangan strategis ini juga dianggap penting untuk stabilitas harga dan jaminan pasokan dalam kondisi darurat.

Langkah ini dinilai sebagai pendekatan proaktif Eropa dalam menghadapi era baru “kompetisi sumber daya,” di mana penguasaan mineral menjadi kunci kekuatan industri dan teknologi global.

Leave a comment

Trending