European Union (Photo/Archive)

BRUSSEL – Konflik militer yang melibatkan Iran di Timur Tengah mulai mengirimkan gelombang kejut ke pasar keuangan global, memicu kekhawatiran besar di kalangan pembuat kebijakan di Uni Eropa (UE). Sejumlah ekonom dan pejabat tinggi Eropa memperingatkan bahwa kawasan Euro merupakan salah satu kekuatan ekonomi utama yang paling rentan terhadap efek domino dari krisis ini.

Berdasarkan analisis sensitivitas dan proyeksi dari komisi ekonomi serta lembaga keuangan seperti ING dan Morgan Stanley, dampak konflik ini terhadap Eropa akan sangat bergantung pada durasi perang.

Ancaman Lonjakan Inflasi dan Krisis Energi

Masalah utama yang dihadapi Eropa adalah ketergantungannya pada pasokan energi. Terganggunya jalur pelayaran komersial di Teluk persia, termasuk ancaman penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur vital pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG), langsung mendongkrak harga komoditas global. Minyak mentah Brent sempat melonjak mendekati angka USD 100 per barel, bahkan berpotensi menembus USD 125 jika ketegangan terus berlanjut.

Ekonom dari ING, Carsten Brzeski, menilai bahwa ketergantungan ini menjadikan blok Uni Eropa sebagai “ekonomi besar yang paling terekspos” terhadap dampak konflik Iran. Berdasarkan rumus umum pasar, setiap kenaikan harga minyak permanen sebesar USD 10 per barel diproyeksikan akan mengerek inflasi zona euro sebesar 0,4 poin persentase dan memangkas pertumbuhan ekonomi sebesar 0,15 poin persentase.

Wakil Presiden Eksekutif Komisi Eropa, Valdis Dombrovskis, juga memperingatkan bahwa jika guncangan energi ini bertahan lama, inflasi Uni Eropa yang sebelumnya sudah mulai melandai bisa kembali melonjak di atas 3%.

Skenario Singkat vs Konflik Berkepanjangan

Para analis membagi proyeksi dampak ekonomi ini ke dalam dua skenario utama:

  1. Skenario Jangka Pendek (Kurang dari Satu Bulan):Jika konflik mereda dalam hitungan minggu, ekonomi Eropa dinilai masih mampu bertahan. Pasar akan melihat lonjakan harga ini sebagai “guncangan volatilitas” sementara, bukan gangguan pasokan struktural yang permanen. Dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan akan minimal, dan target inflasi Bank Sentral Eropa (ECB) tidak akan terganggu secara drastis.
  2. Skenario Jangka Panjang (Berbulan-bulan):Apabila perang berlarut-larut, Eropa terancam masuk ke dalam jurang stagflasi—kondisi di mana pertumbuhan ekonomi melambat atau mandek, sementara angka inflasi dan harga barang-barang terus membubung tinggi. Produk Domestik Bruto (PDB) Uni Eropa diperkirakan bisa terpangkas hingga 0,4 poin persentase dari perkiraan awal tahun sebesar 1,4%. Negara dengan basis industri besar seperti Jerman dan Italia diprediksi akan menjadi yang paling terpukul akibat lonjakan biaya operasional manufaktur.

Dilema Bank Sentral Eropa (ECB)

Situasi ini memicu dilema besar bagi Bank Sentral Eropa (ECB) dan Bank of England (BoE). Sebelum perang pecah, para pengambil kebijakan berencana untuk terus melonggarkan kebijakan moneter dengan memotong suku bunga demi merangsang pertumbuhan ekonomi.

Namun, dengan adanya risiko inflasi gelombang kedua akibat harga energi, ECB kemungkinan besar terpaksa menunda pemotongan suku bunga atau bahkan mengetatkan kembali kebijakan moneter demi menjaga stabilitas harga, meskipun hal itu berisiko semakin menekan pertumbuhan ekonomi yang sedang lesu.

Meski skala dampak ini diperkirakan tidak akan sepadan dengan krisis energi masif tahun 2022 saat awal perang Rusia-Ukraina, para pemimpin Eropa kini mulai bersiap menghadapi ketidakpastian. Pemerintah di berbagai negara Eropa dilaporkan mulai merancang program subsidi energi darurat guna melindungi konsumen dan pelaku industri dari lonjakan biaya hidup.

Leave a Reply

Trending

Discover more from Kabar Eropa

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading