“March4Women” demonstration in London (Sumber: BBC)

BRUSSEL — Gemuruh langkah kaki ribuan perempuan menggema di sudut-sudut kota Madrid, Brussel, hingga Paris. Spanduk-spanduk ungu dikibarkan tinggi-tinggi, bersahutan dengan yel-yel tuntutan kesetaraan. Namun, ada yang berbeda dengan atmosfer Hari Wanita Internasional tahun ini. Di balik semangat yang membara, ada rasa getir yang menggelayut.

Peringatan tahunan ini tidak lagi sekadar merayakan pencapaian kaum hawa, melainkan menjelma menjadi refleksi kelam di tengah dunia yang makin tidak aman akibat rentetan konflik global yang terus memanas.

Menjadi Korban Terdepan dalam Pusaran Konflik

Bagi para aktivis dan pemimpin serikat pekerja yang turun ke jalan, tema hak dan keadilan tahun ini tidak dapat dilepaskan dari realitas geopolitik. Sejarah berulang, dan polanya selalu sama: ketika senjata mulai berbicara, perempuan dan anak-anaklah yang menanggung konsekuensi paling berat.

Di zona-zona konflik aktif saat ini, perempuan tidak hanya kehilangan tempat tinggal dan ruang aman. Mereka berada di garis depan kerentanan—menghadapi ancaman kekerasan berbasis gender yang sistemis, kemiskinan ekstrem, hingga hilangnya hak-hak dasar sebagai manusia. Solidaritas dari jalanan Eropa hari ini dikirimkan khusus untuk mereka yang suaranya diredam oleh dentuman artileri.

“Kita tidak bisa bicara tentang emansipasi di sini, jika di belahan bumi lain saudara perempuan kita masih harus bersembunyi di dalam bunker hanya untuk bertahan hidup,” ujar salah satu demonstran di tengah kerumunan di Brussel.

Pekerjaan Rumah yang Belum Selesai di Negeri Sendiri

Meskipun gaung solidaritas global terasa kental, para demonstran di Eropa tidak menutup mata pada rapor merah di negeri sendiri. Berbagai isu domestik tetap menjadi sorotan utama yang belum juga menemui titik terang:

  • Kesenjangan Upah Gender (Gender Pay Gap): Tuntutan regulasi yang lebih tegas agar perempuan tidak lagi dihargai lebih murah daripada laki-laki untuk pekerjaan yang sama.
  • Kekerasan Domestik: Mendesak pemerintah memperketat undang-undang perlindungan dan tidak abai terhadap korban kekerasan berbasis jender.
  • Hak Kesehatan Reproduksi: Memastikan akses layanan kesehatan perempuan yang merata dan adil di seluruh blok Eropa.

Lebih dari Sekadar Retorika

Di dalam gedung-gedung parlemen dan ruang rapat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Eropa, para pengambil kebijakan juga mulai menunjukkan kecemasan yang sama. Ada pengakuan pahit bahwa semua kemajuan hak-hak perempuan yang telah diperjuangkan selama puluhan tahun terancam mengalami kemunduran akibat instabilitas global saat ini.

Bagi para aktivis, pidato normatif dari para pejabat publik sudah tidak lagi memadai. Komunitas internasional dituntut untuk melakukan aksi nyata, salah satunya dengan melibatkan perempuan secara aktif dalam setiap meja perundingan damai. Sebab, berbagai studi telah membuktikan bahwa perdamaian yang dirancang dengan melibatkan perempuan cenderung jauh lebih inklusif, adil, dan bertahan lama.

Hari Wanita Internasional tahun ini pada akhirnya menjadi sebuah pengingat yang kuat: bahwa perjuangan perempuan bukanlah hal yang berdiri sendiri, melainkan bagian integral dari perjuangan global untuk kemanusiaan dan perdamaian itu sendiri.

Leave a Reply

Trending

Discover more from Kabar Eropa

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading