
NUUK – Sebuah tim ilmuwan internasional bersiap meluncurkan ekspedisi ambisius ke gletser-gletser fjord di Greenland. Langkah ini diambil untuk memahami seberapa cepat pencairan es di wilayah tersebut dapat mendorong Samudra Atlantik menuju “titik kritis iklim” (climate tipping point) yang mampu mengacaukan cuaca global.
Penelitian lapangan ini merupakan bagian dari proyek terintegrasi selama lima tahun bernama GIANT (Greenland Ice sheet to AtlaNtic Tipping points). Program berskala besar ini melibatkan 17 mitra internasional yang dipimpin oleh British Antarctic Survey (BAS) dan didukung oleh pendanaan dari Advanced Research + Invention Agency (ARIA).
Ancaman Runtuhnya Arus Samudra Atlantik
Fokus utama dari proyek GIANT adalah mengukur volume air tawar yang dilepaskan dari gletser fjord Greenland dan menganalisis bagaimana aliran tersebut masuk ke Samudra Atlantik Utara.
Para ahli memperingatkan bahwa membanjirnya air tawar dari pencairan es berpotensi besar mengganggu Sirkulasi Pembalikan Iklim Atlantik (Atlantic Meridional Overturning Circulation / AMOC)—sebuah sistem arus laut utama yang berfungsi mengatur suhu dan pola cuaca global.
Jika aliran air tawar ini melewati ambang batas tertentu (titik kritis), sirkulasi AMOC bisa melambat atau bahkan runtuh. Konsekuensi dari skenario tersebut sangat masif, meliputi musim dingin yang jauh lebih ekstrem di Eropa, lonjakan permukaan air laut di pantai timur Amerika Serikat, hingga gangguan rantai makanan pada ekosistem laut dan perikanan di sekitar Greenland.
Mengingat medan fjord Greenland dipenuhi oleh bongkahan es yang berbahaya dan sulit dijangkau manusia, tim peneliti akan mengerahkan armada teknologi mutakhir. Eksplorasi akan berpusat di dua lokasi dengan karakteristik berbeda, yaitu gletser air pasang (tidewater) di dekat Fjord Kangerlussuaq (Greenland Tenggara) dan Gletser Petermann (Greenland Barat Laut).
Beberapa instrumen canggih yang dikerahkan meliputi:
- Kapal Riset RRS Sir David Attenborough: Bertindak sebagai laboratorium terapung sekaligus platform peluncuran kendaraan otonom.
- Wahana Laut Otonom: Armada robot bawah air dan kapal permukaan tanpa awak yang dilengkapi sonar multimedia untuk memetakan bentuk bawah air dari dinding gletser.
- Drone Udara dan Satelit: Digunakan untuk memantau permukaan gletser secara berkala dari atas.
- Sensor Es: Sensor khusus yang dibor langsung ke dalam lapisan es untuk mendeteksi keretakan secara real-time.
Sistem Peringatan Dini untuk Bumi
Proyek GIANT juga menguji coba sebuah prototipe Sistem Peringatan Dini berbasis daring. Sistem ini mengombinasikan data lapangan, pemantauan satelit, dan pembelajaran mesin (machine learning) guna memprediksi kapan laju kehilangan es di Greenland akan meningkat secara drastis.
“Ini adalah proyek yang sangat ambisius dan sangat mendesak,” ujar Dr. Kelly Hogan, pakar iklim dari BAS sekaligus salah satu pencetus proyek GIANT. “Kita tahu Greenland kehilangan es pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Hasil dari riset ini akan menjadi fondasi krusial bagi pemerintah dan pengambil kebijakan di seluruh dunia dalam merancang langkah adaptasi iklim jangka panjang.”






Leave a Reply