AP Photo/Matthias Schrader

BRUSSEL – Kepala Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa ketergantungan global terhadap bahan bakar fosil secara sistematis telah merusak keamanan nasional dan kedaulatan negara. Sebaliknya, transisi cepat menuju energi terbarukan dinilai mampu membalikkan keadaan dengan menciptakan stabilitas ekonomi dan geopolitik.

Pernyataan tegas tersebut disampaikan oleh Simon Stiell, Sekretaris Eksekutif Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC), dalam pidatonya di KTT Pertumbuhan Hijau (Green Growth Summit) 2026 yang berlangsung di Brussel, Belgia.

Krisis Geopolitik yang Berulang

Stiell menyoroti situasi global saat ini, di mana konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah kembali memicu lonjakan tajam harga minyak dan gas bumi. Guncangan pasar ini menjadi gaung dari krisis energi serupa yang sempat melanda dunia akibat perang di Ukraina beberapa tahun lalu.

Menurut Stiell, volatilitas harga yang terus berulang ini bukanlah gangguan sesaat, melainkan konsekuensi yang dapat diprediksi akibat ketergantungan pada bahan bakar fosil.

“Ketergantungan pada bahan bakar fosil merengrong keamanan nasional dan kedaulatan, lalu menggantinya dengan ketundukan serta lonjakan biaya,” ujar Stiell di hadapan para menteri iklim, investor, dan pelaku bisnis Eropa.

Ia menambahkan bahwa tanpa kemandirian energi, anggaran rumah tangga, roda bisnis, dan perekonomian negara akan selalu berada di bawah kendali guncangan geopolitik dunia yang penuh ketidakpastian.

Mengubah Peta Kekuatan dengan Energi Hijau

Dalam pidatonya, Stiell menggunakan analogi geografis untuk menekankan keunggulan strategis dari energi bersih. Ia menyatakan bahwa pemanfaatan potensi alam lokal akan membebaskan negara dari ketergantungan jalur pasokan global yang rawan konflik.

“Sinar matahari tidak bergantung pada selat pelayaran yang sempit dan rentan. Angin pun berembus tanpa memerlukan pengawalan armada angkatan laut besar yang didanai oleh pembayar pajak,” tegasnya.

Melalui penerapan energi terbarukan, sebuah negara dapat membentengi diri dari pergolakan global dan menghindari politik tekanan antarnegara (might-is-right politics). Langkah ini sekaligus menjawab prioritas utama masyarakat, yaitu keamanan energi, lapangan kerja dengan upah layak, kesehatan yang lebih baik berkat udara bersih, serta keringanan dari tingginya biaya hidup.

Kerugian Finansial Eropa

Eropa menjadi salah satu kawasan yang paling rentan karena tingkat impor bahan bakar fosilnya yang sangat tinggi dibandingkan dengan kekuatan ekonomi utama lainnya. Stiell mengungkapkan bahwa pada tahun 2024 saja, biaya impor bahan bakar fosil ke Eropa menelan dana hingga lebih dari €420 miliar (sekitar Rp7.100 triliun).

PBB menilai, anggapan bahwa memperpanjang penggunaan bahan bakar fosil dapat menyelesaikan krisis energi saat ini adalah sebuah “ilusi”. Sebaliknya, dana sebesar itu seharusnya dialihkan untuk investasi jangka panjang pada infrastruktur energi bersih domestik.

Tren global sendiri menunjukkan pergeseran yang masif. Data terbaru mencatat bahwa investasi global untuk energi bersih telah menembus angka $2 triliun—dua kali lipat dari jumlah investasi yang mengalir ke sektor bahan bakar fosil. Selain itu, energi terbarukan kini telah resmi menggeser batu bara sebagai sumber pembangkit listrik utama di dunia.

Desakan untuk Bertindak

Menutup pidatonya, PBB mendesak para pemimpin Eropa dan global untuk mempercepat transisi energi secara menyeluruh dan tidak lagi menunda komitmen iklim. Selama transisi ke energi terbarukan belum diselesaikan dalam skala besar, masyarakat dan sektor industri akan terus dipaksa membayar harga mahal akibat krisis yang datang silih berganti.

Transisi ke energi hijau bukan lagi sekadar agenda penyelamatan lingkungan, melainkan instrumen vital untuk mempertahankan kedaulatan ekonomi dan keamanan nasional di tengah tatanan dunia baru yang semakin tidak menentu.

Leave a Reply

Trending

Discover more from Kabar Eropa

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading