
Ketegangan antara Presiden AS Donald Trump dan Paus Leo XIV kian meruncing akibat retorika Perang Iran. Simak kupas tuntas Doktrin Perang yang Adil (Just War).
VATIKAN – Hubungan diplomatik antara Washington dan Takhta Suci Vatikan berada di titik nadir. Ketegangan berlatar belakang teologis dan geopolitik mencuat menyusul kritik keras yang dilayangkan oleh Pemimpin Gereja Katolik Sedunia, Paus Leo XIV, terhadap eskalasi operasi militer Amerika Serikat di Iran.
Dilansir dari Euronews, perselisihan ini bukan sekadar adu mulut politik biasa, melainkan sebuah benturan ideologis yang mendalam mengenai moralitas penggunaan senjata di era modern, yang berakar pada penafsiran klasik Gereja Katolik tentang Just War Doctrine (Doktrin Perang yang Adil).
Retorika “Pemusnahan Peradaban” vs Khotbah Perdamaian
Friksi ini bermula dari serangkaian pernyataan kontras kedua pemimpin. Di tengah memanasnya konflik bersenjata, Presiden AS Donald Trump sempat mengeluarkan pernyataan kontroversial di media sosial Truth Social yang memperingatkan bahwa “seluruh peradaban akan mati malam ini” jika Teheran tidak membuka blokade Selat Hormuz.
Pernyataan bernada apokaliptik tersebut direspons langsung oleh Paus Leo XIV. Dalam khotbah Paskahnya di Lapangan Santo Petrus, Paus menegaskan bahwa Allah tidak akan mendengarkan doa-doa mereka yang mengobarkan perang. Paus juga melabeli ancaman terhadap seluruh populasi warga sipil Iran sebagai tindakan yang “sangat tidak dapat diterima.”
Tak terima dikritik, Trump menyerang balik sang pontifex melalui wawancara media dengan menyebut Paus “lemah dalam kebijakan luar negeri.” Trump bahkan melontarkan klaim keliru bahwa Paus mendukung Iran untuk memiliki senjata nuklir—sebuah tuduhan yang dibantah keras oleh Vatikan karena sepanjang kepemimpinannya, Paus justru konsisten menyerukan perlucutan senjata nuklir total di seluruh dunia.
Mengenal “Just War Doctrine”: Mengapa Kubu Trump Melawan balik?
Merespons kecaman Vatikan, faksi-faksi konservatif dan sekutu politik Trump di Washington—termasuk Ketua DPR AS Mike Johnson dan Wakil Presiden JD Vance—mulai menggunakan tameng teologis. Mereka berargumen bahwa aksi militer AS terhadap Iran memenuhi kriteria “Perang yang Adil” (Just War), sebuah konsep moral yang sebenarnya dirumuskan sendiri oleh para teolog Katolik masa lalu seperti Santo Agustinus dan Santo Thomas Aquinas.
Menurut Katekismus Gereja Katolik, sebuah perang hanya dapat dibenarkan secara moral jika memenuhi empat syarat ketat secara simultan:
- Kerusakan Nyata: Kerusakan yang ditimbulkan oleh pihak agresor bersifat pasti, parah, dan berkelanjutan.
- Jalur Terakhir (Last Resort): Semua upaya perdamaian dan diplomasi lain telah dicoba dan terbukti tidak efektif.
- Peluang Sukses: Terdapat prospek kesuksesan yang serius untuk memenangkan pertempuran tanpa memperpanjang penderitaan.
- Proporsionalitas: Penggunaan senjata tidak boleh menimbulkan kerusakan atau kejahatan yang lebih besar daripada kejahatan yang ingin dihilangkan.
Kubu Trump menilai program nuklir Iran dan ancaman serangannya terhadap stabilitas global adalah ancaman nyata yang melegitimasi hak pertahanan diri (jus ad bellum). Namun, Vatikan menilai argumen tersebut keliru.
Mengapa Vatikan Menolak Logika Perang Modern?
Pihak Vatikan dan Konferensi Waligereja AS (USCCB) menegaskan bahwa di era modern, khususnya sejak memasuki abad nuklir dan teknologi kecerdasan buatan (AI), kriteria “Perang yang Adil” sudah hampir mustahil untuk dipenuhi.
Paus Leo XIV menggaungkan kembali ensiklik Fratelli Tutti (2020) yang menyatakan bahwa dengan daya hancur senjata modern, risiko kerusakan kolateral terhadap warga sipil yang tidak bersalah selalu jauh lebih besar daripada manfaat yang diharapkan. Ketika Trump mengancam akan menghancurkan jaringan listrik atau infrastruktur sipil Iran sebagai “balasan sejarah,” tindakan tersebut dinilai melanggar prinsip kekebalan non-kombatan (non-combatant immunity) dan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang menurut Konvensi Jenewa.
Meskipun Utusan Khusus AS Marco Rubio telah diutus ke Roma untuk mencairkan suasana dan berdialog secara autentik mengenai kebijakan Timur Tengah, perbedaan mendasar ini diperkirakan akan terus membayangi relasi AS-Vatikan. Vatikan tetap pada posisi teguh bahwa perdamaian sejati hanya bisa dicapai melalui meja diplomasi, bukan lewat moncong senjata.
Sumber Referensi:
- Euronews My Europe
- Catholic World Report – White House defends praying for U.S. troops after pope condemns using prayers to justify war
- America Magazine – Trump threatened Iran’s ‘whole civilization.’ That’s a war crime—not a just war
- EWTN Vatican – Pope Leo Rejects Trump Claim on Nuclear Weapons
- PolitiFact – Fact-checking Trump’s claim that Pope Leo supports nuclear weapons in Iran






Leave a Reply