Andrea Abodi terlihat di festival politik Atreju yang diselenggarakan oleh partai Brothers of Italy di dekat Castel Sant’Angelo di Roma pada 13 Desember 2025. | Antonio Masiello/Getty Images

Isu panas jelang Piala Dunia 2026 bergulir setelah utusan khusus AS mengusulkan agar Italia menggantikan posisi Iran. Simak respons tegas pemerintah Italia dan FIFA.

JAKARTA – Menjelang bergulirnya Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, jagat sepak bola internasional diguncang oleh isu diplomasi yang kontroversial. Utusan khusus Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Paolo Zampolli, dilaporkan telah mengusulkan kepada FIFA agar Tim Nasional (Timnas) Italia dimasukkan ke dalam turnamen untuk menggantikan posisi Iran.

Namun, alih-alih menyambut gembira peluang “jalur belakang” tersebut, pemerintah dan otoritas olahraga Italia justru menolak keras wacana tersebut dan menyebutnya sebagai sebuah tindakan yang memalukan.

Diplomasi di Balik Lapangan Hijau

Menurut laporan dari Financial Times dan Politico, Paolo Zampolli, yang menjabat sebagai perwakilan khusus AS untuk kemitraan global, menyarankan ide tersebut langsung kepada Presiden FIFA Gianni Infantino dan Presiden Donald Trump. Langkah ini disebut-sebut sebagai bagian dari upaya diplomatik untuk memperbaiki hubungan antara Trump dan Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, yang sempat meregang.

“Saya mengonfirmasi bahwa saya telah menyarankan kepada Trump dan Infantino agar Italia menggantikan Iran di Piala Dunia,” ujar Zampolli kepada Financial Times. “Sebagai orang kelahiran Italia, adalah impian saya melihat Gli Azzurri berlaga di turnamen yang dipandu AS. Dengan koleksi empat gelar juara dunia, mereka memiliki rekam jejak yang layak untuk pemenuhan tempat tersebut.”

Wacana ini mencuat di tengah tensi geopolitik menyusul konflik bersenjata yang melibatkan AS dan Iran, yang menimbulkan kekhawatiran mengenai aspek keselamatan dan keamanan apabila timnas Iran bertanding di tanah Amerika.

Italia Pilih Menjaga Integritas Olahraga

Meskipun pencinta sepak bola Italia masih merasakan kekecewaan mendalam setelah skuad asuhan mereka dipastikan gagal lolos lewat babak kualifikasi, para pejabat tinggi Italia menolak mentah-mentah hadiah politik ini. Mereka menegaskan bahwa tiket Piala Dunia harus diraih melalui perjuangan di atas lapangan, bukan melalui lobi politik.

Menteri Olahraga Italia, Andrea Abodi, memberikan pernyataan tegas yang dikutip oleh kantor berita Italia ANSA dan AGI.

“Apakah Italia akan masuk lewat jalur repechage (pemilihan kembali)? Pertama, hal itu tidak mungkin dilakukan; kedua, hal itu tidak pantas. Anda harus lolos berdasarkan hasil di lapangan,” tegas Abodi.

Senada dengan Abodi, Menteri Ekonomi Italia, Giancarlo Giorgetti, juga melontarkan kritik pedas terhadap usulan utusan AS tersebut. “Saya membaca bahwa utusan Trump meminta hal itu. Saya rasa itu memalukan. Saya sendiri akan merasa sangat malu,” ujarnya kepada media lokal.

Presiden Komite Olimpiade Nasional Italia (CONI), Luciano Buonfiglio, turut menyatakan keberatan yang serupa. “Saya justru akan merasa tersinggung. Tempat di Piala Dunia itu harus diperjuangkan dengan keringat di lapangan,” ungkap Buonfiglio.

Tanggapan Iran dan Sikap FIFA

Wacana pengusiran ini memicu reaksi keras dari Teheran. Kedutaan Besar Iran di Roma melalui pernyataan resminya di media sosial X menyatakan bahwa usulan tersebut mencerminkan “kebangkrutan moral” dari pihak-pihak tertentu yang takut terhadap kehadiran sebelas pemuda Iran di lapangan hijau. Pihak Iran juga menegaskan bahwa kebesaran sepak bola Italia tidak membutuhkan hak istimewa politik semacam itu.

Di sisi lain, FIFA mengisyaratkan tidak akan melakukan perubahan apa pun pada daftar 48 tim peserta yang telah lolos kualifikasi resmi. Merujuk pada komitmen sebelumnya, Presiden FIFA Gianni Infantino menyatakan keyakinannya bahwa Timnas Iran akan tetap berpartisipasi dan menegaskan bahwa sepak bola harus tetap terpisah dari dinamika politik global.

Meskipun Donald Trump sempat menuliskan di media sosial bahwa masalah keamanan menjadi perhatian utama bagi tim Iran, Sekretaris Negara AS Marco Rubio juga menegaskan bahwa pemerintah Amerika Serikat sejauh ini tidak mengambil langkah hukum apa pun untuk melarang atlet-atlet Iran memasuki wilayah AS guna bertanding secara sportif.

Dengan penolakan tegas dari pihak Italia dan sikap kukuh FIFA, dipastikan tidak akan ada perubahan regulasi secara mendadak. Italia harus rela menyaksikan Piala Dunia 2026 dari layar kaca, sementara Iran tetap bersiap menghadapi laga-laga fase grup mereka.

Sumber Referensi:

  • Politico Europe
  • Financial Times
  • Anadolu Agency (AA)
  • The Jakarta Post
  • TIME Magazine

Leave a Reply

Trending

Discover more from Kabar Eropa

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading