Pom Bensin (Hak Cipta 2026 Associated Press. Semua hak dilindungi undang-undang)

BRUSSEL — Krisis energi global akibat Perang Iran yang pecah pada awal tahun 2026 telah mengguncang pasar bahan bakar di seluruh dunia, tidak terkecuali di Uni Eropa (UE). Meskipun Amerika Serikat dan Iran telah menyepakati gencatan senjata pada awal April, harga bahan bakar minyak (BBM) di pom bensin Eropa terpantau belum sepenuhnya kembali ke level normal sebelum perang.

Ketegangan geopolitik yang sempat menyumbat jalur perdagangan vital di Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak mentah Brent hingga sempat menembus angka di atas USD 100 per barel. Efek domino dari konflik ini dirasakan langsung oleh konsumen di Eropa, dengan tingkat kenaikan harga yang bervariasi secara signifikan di tiap negara anggota.

Lantas, negara mana saja di Eropa yang mengalami lonjakan harga BBM paling ekstrem sebelum perang hingga pascagencatan senjata?

Mengapa Dampak Perang Iran Berbeda di Tiap Negara Eropa?

Secara rata-rata di Uni Eropa, harga bensin (petrol) mengalami kenaikan sekitar 15 persen, sedangkan solar (diesel) melonjak hingga lebih dari 26 persen selama puncak konflik. Namun, beban yang ditanggung konsumen di setiap negara tidaklah sama.

Perbedaan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor struktural, antara lain:

  • Kebijakan Pajak Nasional: Komponen pajak dan cukai BBM di negara seperti Belanda dan Denmark jauh lebih tinggi dibandingkan negara Eropa Timur.
  • Ketergantungan Impor: Negara-negara yang mengandalkan jalur pasokan langsung dari Timur Tengah atau memiliki cadangan strategis yang minim mengalami hantaman harga yang lebih instan.
  • Struktur Pasar Domestik: Tingkat persaingan antar-distributor BBM di masing-masing negara.

Daftar Negara dengan Harga Bensin Tertinggi di Eropa

Berdasarkan data pemantauan pasar energi Uni Eropa pascakonflik, wilayah Eropa Barat dan Skandinavia menempati urutan teratas untuk harga bensin (petrol) per liter paling mahal.

Negara-negara dengan harga bensin tertinggi meliputi:

  1. Belanda: Menjadi negara dengan harga bensin termahal di Eropa, mendekati angka €2,26 per liter akibat tingginya beban pajak lingkungan.
  2. Denmark: Mengikuti di posisi kedua dengan harga sekitar €2,17 per liter.
  3. Jerman: Negara dengan ekonomi terbesar di UE ini mencatat harga bensin menembus €2,08 per liter.
  4. Finlandia dan Yunani: Kedua negara ini juga mencatat harga tinggi di kisaran €1,92 hingga €1,95 per liter.

Sebaliknya, negara-negara di kawasan Eropa Timur seperti Bulgaria, Malta, dan Siprus mencatat harga bensin yang jauh lebih rendah, bertahan di kisaran €1,33 hingga €1,42 per liter berkat kebijakan subsidi atau intervensi harga lokal.

Lonjakan Harga Diesel: Swedia dan Spanyol Terpukul Paling Parah

Jika bensin mengalami kenaikan moderat, pasar solar atau diesel justru mengalami guncangan yang jauh lebih hebat. Hal ini terjadi karena Eropa merupakan importir neto untuk produk diesel, sehingga sangat sensitif terhadap gangguan pasokan global.

Kenaikan persentase harga diesel tertinggi sejak awal perang hingga pascagencatan senjata tercatat di negara-negara berikut:

  • Swedia: Mencatat lonjakan harga diesel tertinggi, yakni melesat hingga 35,15 persen.
  • Spanyol: Berada di posisi kedua dengan kenaikan mencapai 32,64 persen.
  • Estonia: Mengalami lonjakan sebesar 31,09 persen.
  • Austria dan Republik Ceko: Mengalami kenaikan harga solar di kisaran 29 hingga 30 persen.

Di Italia, meskipun persentase kenaikannya berada di papan tengah, harga riil diesel di pom bensin tetap menjadi salah satu yang tertinggi di UE, yakni menembus €2,03 per liter, hanya kalah dari Belanda dan Denmark.

Prospek Pasar Energi Eropa Pascagencatan Senjata

Meski pengumuman gencatan senjata sempat menurunkan harga minyak mentah berjangka Brent ke kisaran USD 94 per barel, para analis mengingatkan bahwa pemulihan penuh di tingkat eceran membutuhkan waktu. Komisioner Energi Uni Eropa memperingatkan bahwa harga energi tidak akan langsung merosot ke level praperang dalam waktu dekat.

Aktivitas pengapalan di Selat Hormuz dilaporkan belum kembali ke kapasitas normal, dan biaya logistik serta asuransi kapal tanker masih tinggi. Situasi ini memaksa Uni Eropa untuk mempercepat transisi energi ke sumber terbarukan demi mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil yang rentan terhadap volatilitas geopolitik.

Leave a Reply

Trending

Discover more from Kabar Eropa

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading