Suphanat Wongsanuphat/Getty Images

MOSKOW — Para duta besar dari tiga kekuatan utama Eropa (E3), yaitu Jerman, Prancis, dan Inggris, mengadakan pertemuan penting dengan Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Mikhail Galuzin, di gedung Kementerian Luar Negeri Rusia di Moskow pada Kamis (11/6/2026). Pertemuan diplomatik yang jarang terjadi ini dilakukan di tengah meningkatnya upaya E3 untuk mendorong pembicaraan damai guna mengakhiri perang di Ukraina.

Pertemuan tersebut dihadiri oleh Duta Besar Inggris Nigel Casey, Duta Besar Prancis Nicolas de Rivière, dan Duta Besar Jerman Alexander Graf Lambsdorff.

Misi Perdamaian E3 dan Formula Zelenskyy

Kunjungan para utusan Eropa ini berlangsung hanya beberapa hari setelah para pemimpin E3—Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan Kanselir Jerman Friedrich Merz—menggelar pertemuan puncak bersama Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di London pada 7 Juni lalu.

Dalam pertemuan di Moskow, Dubes Prancis Nicolas de Rivière menyatakan bahwa diskusi berjalan dengan baik. Pihak Eropa menyampaikan poin-poin utama dari deklarasi bersama di London, termasuk dukungan terhadap seruan Presiden Zelenskyy untuk mengadakan negosiasi langsung antara Kyiv dan Moskow guna mencapai gencatan senjata. Eropa juga mengecam eskalasi militer serta kampanye disinformasi yang terus dilancarkan oleh Rusia.

Tanggapan Dingin dari Moskow

Kendati utusan Prancis menyebut diskusi berjalan positif, narasi sebaliknya justru datang dari Kremlin. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, membantah penilaian tersebut dan menuduh para duta besar Eropa hanya mempromosikan “Formula Zelenskyy” yang dinilainya sebagai jalan buntu.

Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan bahwa dalam pertemuan tersebut, pihaknya menyampaikan “penilaian objektif atas kebijakan destruktif” negara-negara Barat yang terus menyuplai senjata ke Ukraina. Moskow menegaskan kembali bahwa penyelesaian konflik hanya bisa dicapai jika negara-negara Barat mau mengatasi “akar penyebab konflik”—sebuah retorika yang kerap digunakan Rusia untuk menuntut konsesi wilayah dari Ukraina.

Sebelum pertemuan berlangsung, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov bahkan sempat meremehkan rencana perdamaian Eropa dengan menyebutnya sebagai “tuntutan tidak tahu malu agar Rusia menyerah”.

Tantangan Jalur Diplomasi

Hingga saat ini, Uni Eropa dan Ukraina menyatakan tetap menginginkan perdamaian yang adil. Namun, juru bicara urusan luar negeri Komisi Eropa, Anitta Hipper, menyebutkan bahwa saat ini Uni Eropa belum melihat adanya tanda-tanda nyata dari pihak Rusia untuk membuka diri terhadap kesepakatan damai yang adil dan berjangka panjang. Oleh karena itu, Uni Eropa menegaskan akan tetap memberlakukan paket sanksi baru terhadap Rusia.

Leave a Reply

Trending