
PARIS – Pemerintah Prancis resmi memberlakukan larangan konsumsi alkohol di ruang publik selama perayaan festival musik tahunan Fête de la Musique. Langkah darurat ini diambil menyusul gelombang panas ekstrem (heatwave) yang tengah melanda sebagian besar wilayah Eropa dan memicu dikeluarkannya status peringatan merah di negara tersebut.
Keputusan tegas ini diumumkan menyusul rapat krisis yang dipimpin langsung oleh Perdana Menteri Prancis, Sébastien Lecornu. Pemerintah mengisytruksikan para kepala daerah (prefek) di seluruh wilayah yang berstatus siaga merah untuk menerbitkan dekret pelarangan penjualan, kepemilikan, membawa, serta mengonsumsi minuman beralkohol di tempat umum.
“Langkah pembatasan ini diambil demi menjaga kapasitas layanan darurat dan fasilitas kesehatan, sehingga petugas medis dapat berfokus memberikan perawatan kepada kelompok masyarakat yang paling rentan,” demikian pernyataan resmi dari kantor Perdana Menteri Prancis.
Kebijakan ini berdampak langsung pada perayaan Fête de la Musique, sebuah festival jalanan masif yang jatuh pada titik balik matahari musim panas (summer solstice). Setiap tahunnya, festival ini mengumpulkan jutaan warga dan musisi untuk merayakan musik secara bebas di jalan-jalan kota. Meskipun pertunjukan musik gratis tetap diizinkan berlangsung, suasana perayaan kali ini dipastikan berbeda tanpa adanya konsumsi alkohol di area terbuka.
Larangan tersebut menyasar minuman beralkohol yang masuk dalam kategori grup 3 hingga 5 (termasuk bir, anggur, dan minuman keras berkadar alkohol tinggi). Pembatasan ini mulai berlaku sejak pagi hari di wilayah-wilayah terdampak, terkecuali untuk area restoran atau kedai berizin resmi yang memiliki izin ruang luar tetap. Selain itu, pemerintah juga melarang penyajian alkohol dalam seluruh acara resmi yang diselenggarakan oleh instansi negara.
Lembaga meteorologi nasional Prancis, Météo-France, telah menempatkan 35 dari 96 wilayah departemen—termasuk ibu kota Paris dan wilayah Île-de-France—ke dalam status peringatan merah, yang merupakan level kewaspadaan tertinggi. Suhu udara di wilayah-wilayah tersebut diperkirakan melonjak drastis hingga mencapai 39 hingga 40 derajat Celsius, bahkan berpotensi menembus 41 derajat Celsius di beberapa titik.
Kombinasi antara temperatur yang sangat tinggi dan dehidrasi akibat alkohol dinilai berisiko fatal bagi kesehatan, seperti memicu sengatan panas (heatstroke) yang dapat mengancam jiwa. Guna membantu warga dan wisatawan mengatasi cuaca ekstrem ini, otoritas kota Paris juga telah mengambil kebijakan untuk membuka taman-taman kota selama 24 jam penuh sebagai ruang terbuka hijau yang lebih sejuk.
Fenomena gelombang panas ini tidak hanya mendera Prancis. Negara-negara tetangga di Eropa juga dilaporkan mengalami lonjakan suhu serupa. Jerman telah merilis serangkaian peringatan cuaca panas secara nasional, sementara di Spanyol, zona penonton luar ruangan untuk pertandingan sepak bola terpaksa ditutup demi keselamatan publik. Para ilmuwan memperingatkan bahwa perubahan iklim global membuat intensitas dan frekuensi gelombang panas di Eropa kini terjadi lebih sering dan lebih parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.





Leave a Reply