AP

ODESA — Sebuah kapal kargo berbendera Liberia yang dimiliki oleh perusahaan pelayaran asal Jerman dilaporkan menjadi sasaran serangan drone (pesawat nirawak) militer Rusia di perairan Laut Hitam, tidak jauh dari lepas pantai Odesa, Ukraina. Insiden yang terjadi pada pekan ini mempertegas peningkatan risiko keamanan bagi jalur pelayaran komersial di kawasan geopolitik yang terus bergejolak tersebut.

Kapal kargo kering bernama EMIL tersebut diserang berulang kali oleh beberapa unit drone saat berada pada jarak sekitar 21 mil laut (kurang lebih 39 kilometer) dari Pelabuhan Odesa. Berdasarkan laporan media internasional, serangan beruntun itu menyebabkan kebakaran di atas geladak serta merusak sejumlah sistem teknis dan navigasi vital. Akibatnya, kapal berbobot besar itu kehilangan kemampuan untuk bermanuver di tengah laut.

Seluruh Awak Selamat dari Kebakaran

Meskipun kapal mengalami kerusakan serius dan serangan susulan sempat terjadi ketika proses evakuasi berlangsung, seluruh awak kapal yang berjumlah 11 orang dilaporkan selamat tanpa mengalami luka-luka. Tim penyelamat segera dikerahkan ke lokasi untuk memadamkan kobaran api dan mengamankan para personel kapal.

Meskipun menancapkan bendera Liberia sebagai bendera kemudahan (flag of convenience), kepemilikan kapal EMIL secara resmi tercatat atas nama perusahan pelayaran ternama yang berbasis di Hamburg, Jerman, yakni Johann M. K. Blumenthal. Kejadian ini menambah daftar panjang kapal komersial milik entitas asing yang menjadi korban salah sasaran atau dampak langsung dari konflik bersenjata di wilayah Laut Hitam.

Bukan Satu-Satunya Sasaran Sipil

Laporan media juga menyebutkan bahwa pada hari yang sama, kapal kargo sipil lainnya, Mera Queen—yang berbendera Guinea-Bissau dan sedang mengangkut komoditas gandum—juga dihantam serangan serupa di kawasan perairan yang sama.

Tidak hanya menyasar armada di laut, gelombang serangan udara Rusia pada malam itu turut menghantam aset-aset bisnis milik perusahaan Jerman yang beroperasi di daratan Ukraina. Produsen perlengkapan olahraga internasional Puma mengonfirmasi bahwa pusat logistik mereka di Ukraina terkena hantaman rudal balistik. Di saat bersamaan, gudang pusat milik produsen bahan kimia otomotif Liqui Moly di Kyiv dilaporkan hancur total akibat ledakan.

Klaim Saling Silang Antara Para Pihak

Kementerian Pertahanan Rusia mengonfirmasi tindakan militer terhadap dua kapal kargo dan sejumlah fasilitas logistik tersebut. Pihak Moskow mengklaim bahwa kapal dan gudang penampungan yang disasar diduga kuat dimanfaatkan untuk mendistribusikan perlengkapan militer bagi angkatan bersenjata Ukraina.

Namun, klaim tersebut dibantah keras oleh pihak pengelola perusahaan dan pengamat independen. Hingga saat ini, tidak ada bukti independen yang menunjukkan adanya muatan militer di atas kapal EMIL maupun di dalam gudang-gudang komersial tersebut. Perwakilan Liqui Moly menyatakan fokus utama perusahaan saat ini adalah meminimalkan gangguan rantai pasok bagi konsumen sipil, sementara pihak Puma terus menginventarisasi tingkat kerusakan fasilitas mereka.

Insiden ini kembali memicu kekhawatiran masyarakat internasional terkait jaminan keselamatan jalur perdagangan maritim dan perlindungan terhadap infrastruktur sipil non-kombatan di kawasan Laut Hitam.

Leave a Reply

Trending

Discover more from Kabar Eropa

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading