AP Photo

POMPEII — Selama bertahun-tahun, narasi sejarah mencatat bahwa Kota Pompeii di Italia sepenuhnya lenyap dan terlupakan setelah letusan dahsyat Gunung Vesuvius pada tahun 79 Masehi. Kota Romawi Kuno tersebut diyakini tertimbun abu vulkanik dan baru kembali disentuh manusia ketika penggalian resmi dimulai pada pertengahan abad ke-18.

Namun, penemuan arkeologis terbaru mematahkan pandangan konvensional tersebut. Bukti-bukti baru menunjukkan bahwa aktivitas manusia di situs bersejarah ini terus berlanjut hingga abad ke-15 dan ke-16, atau tepatnya pada era Renaisans.

Memanfaatkan Kembali Reruntuhan Kuno

Penelitian yang berfokus di kawasan Insula Meridionalis—wilayah bagian selatan Pompeii—menyingkap fakta bahwa beberapa bangunan yang selamat dari letusan Vesuvius tidak benar-benar ditinggalkan. Di area seperti House of the Geometric Mosaics, para arkeolog menemukan jejak adaptasi ruang yang signifikan oleh masyarakat lokal era berikutnya.

Ruang-ruang di lantai bawah yang tadinya berfungsi sebagai kediaman mewah warga Romawi diubah menjadi tempat kerja dan hunian fungsional. Tim peneliti menemukan sisa-sisa lubang tiang kayu, struktur rak, serta meja berbahan bata yang terhubung dengan perapian setengah lingkaran.

Di lapisan tanah yang lebih dalam, arkeolog juga menemukan permukaan dari abad ke-4 hingga ke-5 Masehi yang dilengkapi alat penggilingan gandum (hand mill) dari batu vulkanik. Temuan ini menegaskan adanya aktivitas pemrosesan pangan dan kegiatan domestik seperti pemintalan wol di masa Abad Pertengahan Awal.

Masyarakat saat itu tidak selalu membersihkan sisa abu vulkanik secara menyeluruh. Mereka memilih meratakan lapisan tanah dan abu untuk menciptakan permukaan baru yang dapat dihuni serta dimanfaatkan kembali secara praktis.

Temuan Era Renaisans dan Pengubahan Narasi Sejarah

Kejutan terbesar datang saat tim arkeolog menggali struktur di era yang lebih muda. Di dalam reruntuhan tersebut, ditemukan pecahan keramik berglasir yang berasal dari abad ke-15 dan ke-16. Temuan ini menunjukkan bahwa pada puncak masa Renaisans, orang-orang masih aktif mendatangi, menggunakan, atau bahkan tinggal di sebagian area Pompeii.

Penemuan benda-benda harian ini memberikan perspektif baru bagi dunia arkeologi:

  • Sifat Kehadiran: Kehadiran manusia setelah letusan bukan sekadar kunjungan singkat, melainkan aktivitas terstruktur untuk fungsi domestik dan kerajinan.
  • Ingatan Lokal: Walaupun Pompeii kehilangan identitasnya sebagai kota Romawi yang megah, lokasinya tidak pernah benar-benar terhapus dari ingatan masyarakat sekitar.
  • Transformasi Berkelanjutan: Pemanfaatan ruang berlangsung secara terputus-putus (discontinuous), tetapi konsisten melintasi rentang waktu yang sangat panjang.

Babak Baru Sejarah Pompeii

Penemuan di Insula Meridionalis membuktikan bahwa sejarah Pompeii tidak berhenti secara mendadak pada tahun 79 M. Situs sejarah ini menyimpan catatan peradaban yang terus hidup melalui berbagai potongan fragmen zaman—mulai dari tungku roti era Antik Akhir hingga keramik abad pertengahan dan era Renaisans.

Temuan ini mengubah cara pandang dunia terhadap Pompeii: bukan hanya sebagai museum bencana Romawi Kuno yang membeku dalam waktu, melainkan sebagai lanskap yang terus berinteraksi dengan kehidupan manusia selama berabad-abad.

Leave a Reply

Trending