
BRUSSEL — Sejumlah negara anggota Uni Eropa (UE) dilaporkan menolak keras proposal “reversed membership” atau skema “keanggotaan terbalik” untuk Ukraina. Skema yang awalnya diusulkan untuk mempercepat integrasi Kyiv ke dalam blok tersebut dinilai berisiko merusak kredibilitas proses perluasan Uni Eropa yang selama ini berbasis pencapaian reformasi.
Menurut laporan diplomatik, penolakan ini mencuat dalam sebuah sesi makan malam formal antara para duta besar negara anggota Uni Eropa dengan Komisi Eropa. Pertemuan tersebut digambarkan sebagai momen untuk mengembalikan “realisme politik” atas ambisi Kyiv yang menargetkan masuk Uni Eropa pada tahun 2027.
Apa Itu Skema “Keanggotaan Terbalik”?
Konsep reversed membership atau provisional participation awalnya dipertimbangkan oleh Komisi Eropa sebagai langkah politis yang kuat di tengah situasi perang.
Berdasarkan skema ini, Ukraina akan diberikan status keanggotaan formal terlebih dahulu di awal. Namun, hak-hak penuh dan fasilitas utama sebagai anggota—seperti hak suara (voting rights), dana kohesi, serta subsidi pertanian—akan ditangguhkan dan baru diberikan secara bertahap seiring keberhasilan Kyiv menyelesaikan reformasi internalnya.
Meski dianggap bisa memberi “ruang bernapas” bagi Ukraina agar tidak berpaling dari Eropa, mayoritas ibu kota negara UE menilai jalan pintas ini terlalu berbahaya.
Menjaga Kredibilitas dan Aturan Main
Banyak negara anggota yang mendesak agar proses penerimaan anggota baru tetap berpegang pada standar yang objektif. Perdana Menteri Belanda, Rob Jetten, menyerukan agar Uni Eropa lebih berhati-hati terkait perluasan wilayahnya.
“Kami sangat terbuka untuk mencari cara memberikan dukungan yang lebih luas bagi negara-negara ini (kandidat anggota), tetapi bergerak terlalu cepat bukanlah langkah yang tepat,” ujar Jetten. Ia juga menegaskan bahwa saat ini masih “terlalu dini” untuk menetapkan tanggal pasti bagi bergabungnya Ukraina.
Selain Belanda, kekhawatiran juga datang dari beberapa negara kuat seperti Jerman yang memperingatkan bahaya menciptakan stratifikasi atau “tingkatan kelas” dalam keanggotaan Uni Eropa yang dapat memecah belah solidaritas blok tersebut.
Ambisi Zelenskyy vs Realitas Brussel
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, terus mendesak para pemimpin Eropa untuk memberikan lini masa yang jelas. Zelenskyy menyebut tahun 2027 sebagai target realistis bagi negaranya untuk siap secara teknis dan menganggap keanggotaan UE adalah jaminan keamanan utama di tengah agresi Rusia yang terus berjalan.
Namun, selain tantangan teknis dan reformasi hukum (seperti pemberantasan korupsi), jalan Ukraina masih terganjal oleh perlunya persetujuan bulat dari seluruh 27 negara anggota. Salah satunya adalah Perdana Menteri Hongaria, Viktor Orbán, yang secara konsisten menentang keras percepatan masuknya Ukraina ke Uni Eropa.
Para diplomat kini meminta Komisi Eropa untuk merumuskan opsi yang lebih kredibel dan realistis tanpa harus mengorbankan standar ketat yang selama ini menjadi fondasi dasar Uni Eropa.





Leave a Reply