
Bayangkan skenario ini: Anda menikmati makan siang dengan wafel hangat di sudut kota Brussel, Belgia. Menjelang malam, Anda melangkah masuk ke dalam gerbong kereta, merebahkan kepala di atas bantal yang nyaman, lalu membiarkan guncangan ritmis kereta membuai Anda ke dalam tidur yang lelap. Ketika fajar menyingsing, tiru jendela dibuka, dan pandangan Anda langsung dimanjakan oleh kemegahan Pegunungan Alpen Swiss yang diselimuti salju, sebelum akhirnya tiba di pusat mode dunia, Milan, Italia, tepat pada waktu sarapan.
Bagi para pencinta slow travel (wisata santai) dan pejuang kelestarian lingkungan, impian romantis melintasi jantung benua Eropa tanpa jejak emisi pesawat terbang ini seharusnya menjadi kenyataan pada pertengahan musim panas tahun 2026.
Namun, roda baja tampaknya harus sedikit menahan diri. Operator kereta api malam Belgia-Belanda, European Sleeper, baru saja mengumumkan kabar yang cukup menyesakkan bagi para pemburu liburan musim panas: peluncuran rute langsung Brussel-Milan terpaksa ditunda dari jadwal semula, 18 Juni, menjadi 9 September 2026.
Mengapa jalur impian utara-selatan ini harus tertahan justru di saat antusiasme pelancong sedang tinggi-tingginya?
Ketika Birokrasi dan Perbaikan Rel Menjadi Kerikil Sandungan
Menjalankan kereta api malam lintas negara di Eropa bukanlah perkara mudah. Ini adalah sebuah simfoni logistik yang rumit, yang mempertemukan regulasi, infrastruktur, dan restu dari berbagai negara yang berbeda.
Penundaan rute Brussel-Milan ini berakar pada dua masalah utama: proyek perbaikan rel besar-besaran di Jerman selama musim panas, dan rumitnya proses sertifikasi kereta di Swiss. Swiss merupakan wilayah baru bagi jaringan European Sleeper, dan mendapatkan izin operasional di negara seketat Swiss membutuhkan waktu ekstra.
“Risikonya terlalu besar,” kata Chris Engelsman, salah satu pendiri European Sleeper, dengan nada realistis. “Kami mengkhawatirkan awal yang sulit jika memaksakannya di musim panas. Kami lebih memilih untuk memulainya dengan persiapan yang benar-benar matang pada bulan September.”
Keputusan ini dinilai bijak daripada mempertaruhkan keandalan layanan di tengah puncak musim liburan, di mana jadwal kereta rentan kacau akibat gangguan teknis jalur.
Tak hanya itu, perubahan rute juga terpaksa dilakukan. Rencana awal melewati Jalur Simplon dibatalkan karena renovasi rel yang tak kunjung usai hingga 2027. Kereta akhirnya dialihkan melalui Jalur Gotthard yang legendaris. Menariknya, perubahan ini justru membawa berkah tersendiri bagi para pencinta pemandangan alam. Jalur Gotthard akan membawa kereta melewati Zurich, dan berhenti di stasiun Göschenen—sebuah gerbang emas menuju kawasan resor ski dan keindahan danau-danau di pegunungan Swiss, seperti Danau Como di Italia.
Penundaan Lebih Lama Bagi Pelancong Belanda
Jika pelancong dari Brussel hanya perlu menunggu hingga September, nasib kurang beruntung harus dialami oleh para pelancong dari Belanda. Rencana awal European Sleeper untuk menyambungkan gerbong langsung dari Amsterdam menuju Milan pada tahun ini resmi digeser ke tahun 2027.
Pihak maskapai beralasan bahwa mengoperasikan bagian kereta terpisah dari Amsterdam selama musim sepi (off-peak season) setelah September secara komersial kurang menguntungkan. Alhasil, warga Amsterdam yang ingin mencoba rute ini harus transit terlebih dahulu ke Brussel atau Koln (Cologne), Jerman.
Romantisme Kereta Malam yang Tak Luluh oleh Waktu
Meskipun harus tertunda selama tiga bulan, peluncuran rute ini tetap dipandang sebagai tonggak sejarah penting dalam kebangkitan era kereta malam (night train) di Eropa. Di tengah meningkatnya kesadaran global akan krisis iklim, bepergian menggunakan kereta malam kini bukan lagi sekadar alternatif murah, melainkan sebuah gaya hidup yang penuh prestise dan berkelanjutan.
Rute Brussel-Milan ini akan menjadi layanan kereta malam ketiga dari European Sleeper, menyusul rute Brussel-Praha yang sukses diluncurkan pada 2023, serta rute Paris-Berlin yang mulai menggelinding pada akhir Maret 2026.
Bagi mereka yang tidak keberatan menanti fajar bulan September, tiket rute ini sudah mulai dijual sejak 17 Maret 2026. Harganya pun bervariasi dan cukup ramah kantong jika dibandingkan dengan total biaya tiket pesawat dan hotel:
- Budget Class (Kursi duduk): Mulai dari €29,99 (sekitar Rp510.000) sekali jalan.
- Classic Compartment (Tempat tidur couchette bersama): Mulai dari €49,99 (sekitar Rp850.000), sudah termasuk linen tempat tidur dan sarapan ringan.
- Comfort Plus (Kompartemen privat): Mencapai €129,99 untuk kenyamanan ekstra dan privasi penuh.
Kereta ini dijadwalkan beroperasi tiga kali seminggu. Keberangkatan dari Brussel akan dilayani setiap hari Senin, Kamis, dan Sabtu malam. Sementara perjalanan pulang dari Milan akan berangkat setiap hari Rabu, Jumat, dan Minggu malam.
Musim panas di Eropa mungkin akan berlalu tanpa deru kereta malam menuju Italia. Namun, saat daun-daun mulai berguguran di bulan September nanti, perjalanan romantis membelah jantung Eropa di bawah selimut malam akan siap menyambut mereka yang percaya bahwa perjalanan itu sendiri adalah sebuah tujuan.






Leave a Reply